DINASTI
UMAYYAH DAMASKUS BANI UMAYYAH
DAMASKUS
A.
Konstelasi
Pemerintah Bani Umayyah
Sepeninggal Ali bin Abu Thalib, Gubernur
Syam tampil sebgai penguasa Islam yang kuat. Masa kekuasaannya merupakan awal
kedaulatan Bani Umayyah.
Factor keberhasilan Muawiyah dalam
meraih jabatan Khalifah dan membangun pemerintahan Bani Umayyah bukan hanya
akibat dari kemenanngan diplomasi di Shiffin dan terbunuhnya khalifah Ali saja
melainkan merupakan hasil akhir dari peristiwa-peristiwa politik itu sendiri
yang kurang cemerlang.
Keberhasilan Muawiyah dilator
belakangi oleh beberapa faktor. Pertama, sejaka masa khalifah Umar bin
Al-Khattab, kepribadian dan kematangan karir politiknya sudah Nampak pada masa
itu, Ia diangkat menjadi Gubernur Syam menggantikan Abu Ubaidah dan saudaranya,
Yazid bin Muawiyah, yang meninggal dunia akibat serangan wabah penyakit yang
sangat ganas.
Kedua, pada awal pemerintahan Ali
bin Abi Thalib, Muawiyah diminta untuk meletakkan jabatan, tetapi ia menolaknya
bahkan ia tidak mengakui kekhalifahan Ali dan memanfaatkan peristiwa berdarah
yang menimpah Usman bin Affan untuk menjatuhkan legalitas kekuasaan Ali dengan
membangkitkan kemarahan rakyat dan menuduh Ali sebagai orang yang mendalangi
pembunuhan Usman, jika Ali tidak dapat menemukan dan menghukum pembunuh yang
sesungguhnya.
Ketiga, desakan Muawiyah tersebut
mengakibatkan terjadinya pertempuran sengit antara pihaknya dan pihak Ali
sebagai khalifah di kota tua Shiffin yang berakhir dengan proses Tahkim
(arbitrase) pada tahun 37 H, dalam pertempuran yang memakan waktu behari-hari
ini. Menurut catatan Al-Thabari (V/48), sebanarnya pihak Muawiyah sudah
terdesak dan merasa khawatir akan kalah.
Pihak Muawiyah bersama pendudukan
Syam sepakat menunjuk Amr bin Al-Ash sebagai wakil dari perundingan terebut. Sedangkan
pihak Ali bin Abu Thalib, atas usulan al-Asy’as, Zaid bin Husain at-Thai dan
Mis’ar bin Fadaki, diwakili oleh Abu Musa al-Asy’ari.
Inti dari kesepakatan yang dibuat
pada bulan Shafar tahun37 H ini adalah gencatan senjata dan akan bertemu
kembali dalam sebuah perundingan bulan Ramadhan di Dumatul Jandal wilayah
Adzruh. Pasukan ini kemudian berpencar. Muawiyah kembali ke Syam, dsedangkan
Ali kembali ke Kufah.
Keempat, sesuai proses Tahkim, lama
kelamaan pasukan Ali terus berkurang dan melemah. Kelompok Khawarij yang
berjumlah sekitar 12.000 orang turut serta merepotkan Ali. Wilayah kekuasaannya
pun terus digerogoti oleh pasukan Muawiyah. Sementara kekuatan Muawiyah semakin
kokoh. Dia mendapat dukungan yang kuat dari rakyat Syam dan keluarga Bani
Umayyah.
Kelima, Muawiyah memiliki kemampuan
menonjol sebagai negarwan sejati, bahkan mencapai tingkat “Hilm”. Sifat hilm
menurut Eaton (2005;252) adalah sifat kasih saying terhadap musuh dan kesiapan
untuk menerima perbedaan. Selain itu sebagai administrator, Muawiyah sangat
bijaksana dalam menempatkan para pembatunya pada jabatan-jabatan penting. Amr
bin al-Ash dikenang sebagai penakluk Mesir pada Umar bin al-Khattab dan
menjabat gubernur pertama di wilayah itu. Sejak wafatnya khalifah Usman, Amr
mendukung Muawiyah dan ditunjuk olehnya sebagai penengah dalam peristiwa tahkim
karena kecerdikannya dalam diplomasi.
Memasuki kekuasaan Muawiyah yang
menjadi awal kekuasaan Bani Umayyah ini, system pemerintahan Islam yang dulunya
bersifat demokrasi berubah menjadi monarki heredetis (kerajaan turun menurun).
Sukses kepemimpinan secara turun menurun dimulai ketika Muawiyah mewajibkan
seluruh rakyatnya untuk menyatakan setia terhadap anaknya, Yazid.
Pemerintah ini tentu saja memberikan
sinyal awal bahwa kestiaan yang turun menurun telah dicoba dibangun oleh
Muawiyah.
B.
Khalifah
Bani Umayyah
Memasuki kekuasaan Muawiyah yang
menjadi awal kekuasaan bani Umayyah, pemerintahan yang bersifat demokratis
berubah menjadi monarciherdetis (kerajaan turun menurun). Kekhalifahan Muawiyah
diperoleh melalui kekerasan, diplomasi dan tipudaya, tidak dengan pemilihan
atau suara terbanyak. Suksesi kepemimpinan secara turun menurun dimulai ketika
Muawiyah mewajibkan seluruh rakyatnya untuk menyatakan setia terhadap anakanya,
Yazid. Umayyah bermaksud mencontoh monarchi di Persia dan Bizantium. Kekuasaan
Bani Umayyah berumur kurang dari 90 tahun. Ibu kota Negara dipindahkan Muawiyah
dari Madinah ke Damaskus, tempat ia berkuasa sebagai gubernur sebelumnya.
Khalifah-khalifah besar dinasti bani Umayyah ini adalah Muawiyah bin abi Sufyan
(661-680 M), abd al-Malik ibn Marwan (685-705 M), al-Walid ibn Abdul Malik
(9705-9715 M), Umar ibn Abd al-Aziz (717-720) dan Hasyim ibn Adb al-MAlik
(724-743 M).
Pada masa pemerintahan walid adalah
masa ketentraman, kemakmuran, dan ketertiban. Umat Islam merasa sangatlah
tentram dan hidup bahagia pemerintahannya yang berjalan lebih sepuluh tahun tiu
tercatat suatu expedisi militer dan Afirika, dan Eropa, yaitu pada tahun 711 M.
Setelah Al-Jazair dan Marokko dapat
di tundukkan, Tariq bin Ziyad, pemimpin pasukan Islam, dengan pasukannya
menyebrangi selat yang memishakan antara Marokko dan benua Eropa, dan mendarat
di suatu tempat yang sekarang dikenal dengan nama Gibraltar (Jabal Tariq).
Dengan keberhasilan ekspansi
kebeberapa daerah baik dari Timur maupun Barat, wilayah kekuasaan Islam masa
Bani Umayyah ini betul-betul sangatlah luas. Bani Umayyah banyak berjasa dalam
pembangunan di berbagai bidang. Umayyah mendirikan pos dan tempat-tempat
tertentu dengan menyediakan kuda yang lengkap dengan peralatannya disepanjang
jalan.
Perlawanan terhadap Bani Umayyah
dimulai oleh Husein ibn Ali. Pada tahun 680 M, ia pindah dari Mekkah ke Kufah
atas permintaan golongan syi’ah (pengikut Ali) yang ada di Irak. Umat Islam di
daerah ini mengakui Yazid. Mereka mengangkat Husein sebagai khalifah. Dalam
pertempuran yang tidak seimbang di Karbela, sebuah daerah didekat Kufah,
tentara Husein kalah dan Husein sendiri mati terbunuh. Kepalanya dipenggal dan
dikirim ke Damaskus, sedangkan tubuhnya dikubur di Karbela.
Ada beberapa factor yang menyebabkan
dinasti Bani Umayyah lemah dan membawanya kepada kehancuran yaitu :
1.
System
pergantian khalifah melalui garis keturunan adalah sesuatu yang baru bagi
tradisi Arab yang lebih menekankan aspek senioritas.
2.
Latar
belakang terbentuknya dinasti Bani Umayyah tidak bias dipisahkan dari
konflik-konflik politik yang terjadi di masa Ali.
3.
Pada
masa kekuasaan Bani Umayyah, pertentangan etnis antara suku Arabiah Utara (Bani
Qays) dan Arabia Selatan (Bani Kalb) yang sudah ada sejak zaman sebelum Islam,
makin meruncing.
4.
Lemahnya
pemerintahan daulat Bani Umayyah juga disebabkan oleh sikap hidup mewah
dilingkungan istana sehingga anak-anak khalifah tidak sanggup memikul bebna
berat kenegaraan tatkala mereka mewarisi kekuasaan.
5.
Penyebab
langsung tergulingnya kekuasaan dinasti Bani Umayyah adalah munculnya kekuatan
baru yang dipelopori oleh keturunan al_abbas ibn Abd al-Muthalib.
No comments:
Post a Comment