Monday, April 20, 2015

ARTIKEL : DINASTI UMAYYAH

DINASTI UMAYYAH DAMASKUS BANI UMAYYAH
DAMASKUS

A.    Konstelasi Pemerintah Bani Umayyah
Sepeninggal Ali bin Abu Thalib, Gubernur Syam tampil sebgai penguasa Islam yang kuat. Masa kekuasaannya merupakan awal kedaulatan Bani Umayyah.
Factor keberhasilan Muawiyah dalam meraih jabatan Khalifah dan membangun pemerintahan Bani Umayyah bukan hanya akibat dari kemenanngan diplomasi di Shiffin dan terbunuhnya khalifah Ali saja melainkan merupakan hasil akhir dari peristiwa-peristiwa politik itu sendiri yang kurang cemerlang.
Keberhasilan Muawiyah dilator belakangi oleh beberapa faktor. Pertama, sejaka masa khalifah Umar bin Al-Khattab, kepribadian dan kematangan karir politiknya sudah Nampak pada masa itu, Ia diangkat menjadi Gubernur Syam menggantikan Abu Ubaidah dan saudaranya, Yazid bin Muawiyah, yang meninggal dunia akibat serangan wabah penyakit yang sangat ganas.
Kedua, pada awal pemerintahan Ali bin Abi Thalib, Muawiyah diminta untuk meletakkan jabatan, tetapi ia menolaknya bahkan ia tidak mengakui kekhalifahan Ali dan memanfaatkan peristiwa berdarah yang menimpah Usman bin Affan untuk menjatuhkan legalitas kekuasaan Ali dengan membangkitkan kemarahan rakyat dan menuduh Ali sebagai orang yang mendalangi pembunuhan Usman, jika Ali tidak dapat menemukan dan menghukum pembunuh yang sesungguhnya.
Ketiga, desakan Muawiyah tersebut mengakibatkan terjadinya pertempuran sengit antara pihaknya dan pihak Ali sebagai khalifah di kota tua Shiffin yang berakhir dengan proses Tahkim (arbitrase) pada tahun 37 H, dalam pertempuran yang memakan waktu behari-hari ini. Menurut catatan Al-Thabari (V/48), sebanarnya pihak Muawiyah sudah terdesak dan merasa khawatir akan kalah.
Pihak Muawiyah bersama pendudukan Syam sepakat menunjuk Amr bin Al-Ash sebagai wakil dari perundingan terebut. Sedangkan pihak Ali bin Abu Thalib, atas usulan al-Asy’as, Zaid bin Husain at-Thai dan Mis’ar bin Fadaki, diwakili oleh Abu Musa al-Asy’ari.
Inti dari kesepakatan yang dibuat pada bulan Shafar tahun37 H ini adalah gencatan senjata dan akan bertemu kembali dalam sebuah perundingan bulan Ramadhan di Dumatul Jandal wilayah Adzruh. Pasukan ini kemudian berpencar. Muawiyah kembali ke Syam, dsedangkan Ali kembali ke Kufah.
Keempat, sesuai proses Tahkim, lama kelamaan pasukan Ali terus berkurang dan melemah. Kelompok Khawarij yang berjumlah sekitar 12.000 orang turut serta merepotkan Ali. Wilayah kekuasaannya pun terus digerogoti oleh pasukan Muawiyah. Sementara kekuatan Muawiyah semakin kokoh. Dia mendapat dukungan yang kuat dari rakyat Syam dan keluarga Bani Umayyah.
Kelima, Muawiyah memiliki kemampuan menonjol sebagai negarwan sejati, bahkan mencapai tingkat “Hilm”. Sifat hilm menurut Eaton (2005;252) adalah sifat kasih saying terhadap musuh dan kesiapan untuk menerima perbedaan. Selain itu sebagai administrator, Muawiyah sangat bijaksana dalam menempatkan para pembatunya pada jabatan-jabatan penting. Amr bin al-Ash dikenang sebagai penakluk Mesir pada Umar bin al-Khattab dan menjabat gubernur pertama di wilayah itu. Sejak wafatnya khalifah Usman, Amr mendukung Muawiyah dan ditunjuk olehnya sebagai penengah dalam peristiwa tahkim karena kecerdikannya dalam diplomasi.
Memasuki kekuasaan Muawiyah yang menjadi awal kekuasaan Bani Umayyah ini, system pemerintahan Islam yang dulunya bersifat demokrasi berubah menjadi monarki heredetis (kerajaan turun menurun). Sukses kepemimpinan secara turun menurun dimulai ketika Muawiyah mewajibkan seluruh rakyatnya untuk menyatakan setia terhadap anaknya, Yazid.
Pemerintah ini tentu saja memberikan sinyal awal bahwa kestiaan yang turun menurun telah dicoba dibangun oleh Muawiyah.
B.     Khalifah Bani Umayyah
Memasuki kekuasaan Muawiyah yang menjadi awal kekuasaan bani Umayyah, pemerintahan yang bersifat demokratis berubah menjadi monarciherdetis (kerajaan turun menurun). Kekhalifahan Muawiyah diperoleh melalui kekerasan, diplomasi dan tipudaya, tidak dengan pemilihan atau suara terbanyak. Suksesi kepemimpinan secara turun menurun dimulai ketika Muawiyah mewajibkan seluruh rakyatnya untuk menyatakan setia terhadap anakanya, Yazid. Umayyah bermaksud mencontoh monarchi di Persia dan Bizantium. Kekuasaan Bani Umayyah berumur kurang dari 90 tahun. Ibu kota Negara dipindahkan Muawiyah dari Madinah ke Damaskus, tempat ia berkuasa sebagai gubernur sebelumnya. Khalifah-khalifah besar dinasti bani Umayyah ini adalah Muawiyah bin abi Sufyan (661-680 M), abd al-Malik ibn Marwan (685-705 M), al-Walid ibn Abdul Malik (9705-9715 M), Umar ibn Abd al-Aziz (717-720) dan Hasyim ibn Adb al-MAlik (724-743 M).
Pada masa pemerintahan walid adalah masa ketentraman, kemakmuran, dan ketertiban. Umat Islam merasa sangatlah tentram dan hidup bahagia pemerintahannya yang berjalan lebih sepuluh tahun tiu tercatat suatu expedisi militer dan Afirika, dan Eropa, yaitu pada tahun 711 M.
Setelah Al-Jazair dan Marokko dapat di tundukkan, Tariq bin Ziyad, pemimpin pasukan Islam, dengan pasukannya menyebrangi selat yang memishakan antara Marokko dan benua Eropa, dan mendarat di suatu tempat yang sekarang dikenal dengan nama Gibraltar (Jabal Tariq).
Dengan keberhasilan ekspansi kebeberapa daerah baik dari Timur maupun Barat, wilayah kekuasaan Islam masa Bani Umayyah ini betul-betul sangatlah luas. Bani Umayyah banyak berjasa dalam pembangunan di berbagai bidang. Umayyah mendirikan pos dan tempat-tempat tertentu dengan menyediakan kuda yang lengkap dengan peralatannya disepanjang jalan.
Perlawanan terhadap Bani Umayyah dimulai oleh Husein ibn Ali. Pada tahun 680 M, ia pindah dari Mekkah ke Kufah atas permintaan golongan syi’ah (pengikut Ali) yang ada di Irak. Umat Islam di daerah ini mengakui Yazid. Mereka mengangkat Husein sebagai khalifah. Dalam pertempuran yang tidak seimbang di Karbela, sebuah daerah didekat Kufah, tentara Husein kalah dan Husein sendiri mati terbunuh. Kepalanya dipenggal dan dikirim ke Damaskus, sedangkan tubuhnya dikubur di Karbela.
Ada beberapa factor yang menyebabkan dinasti Bani Umayyah lemah dan membawanya kepada kehancuran yaitu :
1.      System pergantian khalifah melalui garis keturunan adalah sesuatu yang baru bagi tradisi Arab yang lebih menekankan aspek senioritas.
2.      Latar belakang terbentuknya dinasti Bani Umayyah tidak bias dipisahkan dari konflik-konflik politik yang terjadi di masa Ali.
3.      Pada masa kekuasaan Bani Umayyah, pertentangan etnis antara suku Arabiah Utara (Bani Qays) dan Arabia Selatan (Bani Kalb) yang sudah ada sejak zaman sebelum Islam, makin meruncing.
4.      Lemahnya pemerintahan daulat Bani Umayyah juga disebabkan oleh sikap hidup mewah dilingkungan istana sehingga anak-anak khalifah tidak sanggup memikul bebna berat kenegaraan tatkala mereka mewarisi kekuasaan.
5.      Penyebab langsung tergulingnya kekuasaan dinasti Bani Umayyah adalah munculnya kekuatan baru yang dipelopori oleh keturunan al_abbas ibn Abd al-Muthalib.


No comments:

Post a Comment