Monday, April 20, 2015

CONTOH PROPOSAL SKRIPSI AGAMA ISLAM - PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH

BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang
Anak-anak adalah generasi penerus bangsa. Merekalah yang kelak membangun bangsa Indonesia menjadi bangsa yang maju, dan tidak tertinggal dari bangsa-bangsa lain. Dengan kata lain, masa depan bangsa sangat ditentukan oleh pendidikan yang diberikan kepada anak-anak. Pendidikan sangat dibutuhkan bagi setiap orang untuk mengembangkan potensi dirinya dan untuk mengahadapi berbagai problematika hidup. Maju atau tidaknya suatu Negara bergantung pada pendidikan masyarakatnya. Maka dari itu pendidikan yang baik dan berkualitas sangat penting dikecap oleh setiap warga Negara.
1
 
Untuk menciptakan generasi yang berkualitas, pendidikan harus dilakukan sejak usia dini. Pendidikan anak usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampar dengan trsia 6 tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut. Dalam Undang-Undang Sisdiknas Tahun 2003 Pasal 28 dinyatakan bahwa pendidikan anak usia dini dapat di selenggarakan melalui jalur pendidikan forrnal seperti Taman Kanak-kanak (TK), Raudatul Athfal (RA), atau bentuk lain yang sederajat.
Taman kanak-kanak (disingkat TK) merupakan suatu lembaga pendidikan yang memberikan pendidikan kepada anak usia dini sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan anak. Dimana kurikulum TK ditekankan pada pemberian rangsangan pendiditkan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut. Tujuannya yaitu meningkatkan daya cipta anak-anak dan memacunya untuk belajar mengenal bermacam-macam ilmu pengetahuan melalui pendekatan nilai budi bahasa, agama, sosial, emosional, fisik/ motorik, kognitif, bahasa, seni, dan kemandirian. Semua dirancang sebagai upaya menumbuhkembangkan daya fikir dan peranan anak kecil dalam kehidupannya. Semua kegiatan belajar ini dikemas dalam model belajar sambil bermain.
Sebagaimana terdapat dalam Garis-Garis Besar Program Kegiatan Belajar Taman Kanak-kanak (Depdikbud, 1994) tujuan program kegiatan anak TK adalah untuk membantu meletakkan dasar ke arah perkembangan sikap, pengetahuan, keterampilan, dan daya cipta yang diperlukan oleh anak didik dalam penyesuaian diri dengan lingkungannya dan untuk petumbuhan serta perkembangan selanjutnya. (Moeslichatoen, 2004 : 2).
Pertumbuhan dan perkembangan merupakan suatu proses perubahan yang terjadi secara menyeluruh dalam diri seorang anak. Menyeluruh dalam arti menjangkau dalam hampir semua aspek kehidupan anak, dimana perubahan dalam satu aspek berkaitan dengan perubahan aspek lain. (Hartinah, 2008: 32). Perkembangan aspek sosial diawali pada masa kanak-kanak (usia 3-5 tahun). Kehidupan anak dalam menelusuri perkembangan itu pada dasarnya merupakan kemampuan mereka berinteraksi dengan lingkungan. Pada umur-umur selanjutnya anak mulai belajar mengembangkan interaksi sosial dengan belajar menerima pandangan kelompok memahami tanggung jawab dan berbagai pengertian dengan orang lain. (Sunarto dan Hartono, 2008: 127).
Aspek moral dan keagamaan juga berkembang. sejak kecil, peranan lingkungan juga sangat dominan bagi perkembangan aspek ini. Maka dari itu lingkungan yang baik seperti lingkungan taman kanak-kanak sangat dibutuhkan bagi anak-anak usia dini, karena lingkungan dapat membangkitkan keterampilan bernalar, dan membantu perkembangan kecerdasan anak.
Menurut pengamatan peneliti, komunitas anak kelas I sekolah dasar yang baru masuk sekolah memiliki tingkah laku yang berbeda. Sebagian dari mereka terlihat diam memperhatikan sekelilingnya. Sebagian lagi mengamati anak-anak yang lain dan terlihat ingin berkenalan. Ada juga yang tampak malu-malu dan menempel pada orangtuanya sebelum bel sekolah berbunyi. Yang lainnya sudah menangis meraurg-raung dan ingin pulang bersama orangtuanya atau tidak mengizinkan orangtuanya meninggalkan mereka. Tapi tak sedikit pula dari mereka yang terlihat riang dan dengan mudah berinteraksi dengan teman-teman yang lain.
Memasuki sekolah dasar, terkadang menjadi satu ketakutan tersendiri bagi seorang anak. Ketakutan atau kecemasan ini merupakan reaksi terhadap perubahan yang harus mereka alami. Ada semacam ketidaksiapan bagi anak dalam menghadapi perubahan ini. Perasaan bingung, cemas, grogi, semangat dan yang lainnya bercampur baur menjadi satu. Belum lagi perasaan takut, malu, dan rasa bersalah jika melakukan kesalahan dalam lingkungan yang baru.
Perbedaan tingkah laku pada anak yang baru memasuki usia sekolah dasar, dapat juga dilihat ketika anak mengikuti kegiatan belajar. Diantara mereka ada yang bisa dengan cepat beradaptasi, ada juga yang tidak, ada yang kesulitan menangkap materi pelajaran, ada yang dengan cepat menangkap materi pelajaran, ada yang cepat bersosialisasi, ada.juga yang lambat, ada yang pemalu, pendiam, nakal, dan lain-lain. Hal-hal tersebut sebagian besar disebabkan oleh pendidikan dan pengalaman yang mereka dapatkan sebelumnya. Maka dari itu pendidikan prasekolah juga sangat perlu diperhatikan.
Bagi anak-anak, sekolah dasar merupakan dunia yang memiliki banyak perbedaan dengan pengalaman yang mereka jalani dalam lingkungan keluarga. Berbagai penyesuaian baru dituntut di sekolah dasar ketika mereka mulai menginjak kelas satu. Jadi pengalaman anak-anak di TK berfungsi sebagai jembatan antara rurnah dengan sekolah. TK mengernban misi untuk menciptakan kesinambungan pengalaman antara dunia anak-anak dalam keluarga dengan kehidupan dan tuntutan belajar di sekolah dasar.
Ada perbedaan antara anak yang sebelumnya mengecap pendidikan TK dengan anak yang tidak pernah mengecap pendidikan TK. Perbedaannya adalah bahwa anak-anak TK mendapat rangsangan intelektual, sikap motivasi dari keluarga pada usia prasekolah. TK juga berfungsi sebagai penguat atau komplemen. Dalam hal ini pula TK dapat berfungsi untuk menjembatani kesenjangan tingkat kesiapan memasuki jenjang sekolah dasar antara anak-anak yang berasal dari berbagai lingkungan sosial dengan tingkat sosial ekonomis yang berlainan. Dengan kata lain, anak yang berasal dari TK mempunyai kesiapan belajar yang cukup baik untuk memasuki awal sekolah dasar, baik dari segi mental, sosial, pengetahuan, kemandirian maupun hal-hal lain yang menyangkut tujuan dari TK. Kesiapan belajar inilah nantinya yang akan mempengaruhi prestasi belajar anak disekolah. Seberapa besarkah kesiapan belajar yang dimiliki anak mampu mempengaruhi prestasi belajarnya? Hal inilah yang membuat peneliti tertarik mengangkat judul "Perbedaan Prestasi Belajar antara Siswa yang Melalui Jenjang TK dengan Siswa yang Tidak Melalui Jenjang TK di MI Nurul Huda Kota Bengkulu."
B.       Rumusan Masalah
Perrnasalahan yang akan di teliti dalam penelitian ini di rumuskan sebagai berikut :
1.      Prestasi belajar siswa yang melalui jenjang TK
2.      Prestasi belajar siswa yang tidak melalui jenjang TK
3.      Apakah ada perbedaan ptestasi belajar antara siswa yang melalui jenjang TK dengan siswa yang tidak melalui TK ?

























b.      Secara Praktis
Sebagai bahan informasi bagi masyarakat betapa pentingnya menyekolahkan anak di usia dini di lembaga pendidikan nonformal seperti TK.
E.       Sistematika Penulisan
Bab l, pendahuluan dengan rincian latar belakang, rumusan masalah, batasan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, metode penelitian, hipotesis.
Bab II, pada bab ini menerangkan tentang landasan teori dengan rincian pengertian belajar, cirri-ciri belajar, prinsip-prinsip belajar, faktor-faktor yang mempengaruhi belajar, pengertian prestasi, jenis-jenis evaluasi prestasi, pengertian pendidikan anak usia dini, pentingnya pendidikan anak usia dini, fungsi dan tujuan pendidikan anak usia dini, pembelajaran anak usia dini, taman Kanak-kanak, pembelajaran di taman kanak-kanak.
Bab III, metode penelitian, membahas tentang jenis penelitian lokasi dan tempat penelitian, variabel penelitian, populasi dan sampel, teknik pengumpulan data dan tehnik analisis data.
Bab IV, temuan hasil penelitian yakni membahas tentang prestasi belajar siswa yang melalui jenjang TK, prestasi belajar siswa yang tidak melalui jenjang TK, dan perbedaan prestasi belajar antara siswa yang melalui jenjang TK dengan siswa yang tidak melalui TK pada siswa kelas 1 MI Nurul Huda Kota Bengkulu.
BabVpenutup, membahas tentang kesimpulan dan saran.

F.       Hipotesis
Hipotesis: Prestasi belajar siswa yang melalui jenjang TK akan lebih baik dari siswa yang tidak melalui jenjang TK.



















BAB II
LANDASAN TEORI
A.    Konsep Belajar
1.      Pengertian Belajar
a.       Dalam Karnus Besar Bahasa Indonesia
Secara etimologis belajar memiliki arti “berusaha mernperoleh kepandaian atau ilmu”. Definisi ini memiliki pengertian bahwa belajar adalah sebuah kegiatan untuk mencapai kepandaian atau ilmu. Di sini, usaha untuk mencapai kepandaian atau ilmu merupakan usaha manusia untuk memenuhi kebutuhannya mendapatkan ilmu atau kepandaian yang belum dimiliki sebelumnya. Sehingga dengan belajar manusia menjadi tahu, memahami, mengerti, dapat melaksanakan dan memiliki tentang sesuatu. (Fudyartanto dalam Baharuddin,2008 : 13).
b.      Menurut Hilgrad dan Bower
8
 
Belajar (to learn) memiliki arti: 1) ta gain knowledge, comprehension, or mastery of trough experience or study; 2) to fix in the mind or memory; memorize; 3) to acquire trough experience; 4) to become in forme of to find out. Menurut definisi tersebut, belajar memiliki pengertian memperoleh pengetahuan atau menguasai pengetahuan melalui pengalaman, mengingat, menguasai pengalaman, dan mendapatkan informasi atau menemukan. Dengan demikian belajar memiliki arti dasar adanya aktivitas atau kegiatan dan penguasaan tentang sesuatu. (Baharuddin, 2008: l3).
c.       Menurut teori Behavioristik
Menurut teori behavioristik, belajar adalah perubahan tingkah laku sebagai akibat dari adanya interaksi antara stimulus dan respon. Dengan kata lain, belajar merupakan bentuk perubahan yang dialami siswa dalam hal kemampuannya untuk bertingkah laku dengan cara yang baru sebagai hasil interaksi antara stimulus dan respon. Seorang dianggap telah belajar sesuatu jika ia dapat menunjukkan perubahan tingkah lakunya (Budiningsih, 2005: 20).
d.      Menurut Thorndike
Belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respon. Stimulus yaitu apa saja yang dapat merangsang terjadinya kegiatan belajar seperti pikiran, perasaan, atau hal-hal lain yang dapat ditangkap melalui alat indera. Sedangkan respon yaitu reaksi yang dimunculkan peserta didik ketika belajar, yang juga dapat berupa pikiran. perasaan atau gerakan tindakan. Dari defenisi belajar tersebut maka menurut Thorndike perubahan tingkah laku akibat dari kegiatan beiajar itu dapat berwujud kongkrit yaitu yang dapat diamati, atau tidak kongkrit yang tidak dapat diamati (Budiningsih, 2005: 21).


Dari beberapa pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahwa belajar merupakan usaha seseorang untuk mendapatkan ilmu pengetahuan melalui proses interaksi antara stimulus dan respon, yang ditandai dengan adanya perubahan tingkah laku dari segi kognitif, afektif, dan psikomotor, dari yang tidak tahu menjadi tahu.
2.      Ciri-ciri Belajar
Dari beberapa definisi para ahli di atas, dapat disimpulkan adanya beberapa ciri belajar, yaitu:
a.       Belajar ditandii' dengan adanya perubahan tingkah laku (change behavior). Ini berarti, bahwa hasil dari belajar hanya dapat diamati dari tingkah laku, yaitu adanya perubahan tingkah laku, dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak terampil menjadi terampil. Tanpa mengamati tingkah laku hasil belajar, kita tidak akan dapat rnengetahui ada tidaknya hasil belajar.
b.      Perubatran prilaku relatif permanen. Ini berarti, bahwa perubahan tingkah laku yang terjadi karena belajar untuk waktu tertentu akan tetap atau tidak berubah-rubah. Tetapi, perubahan tingkah laku tersebut tidak akan terpancang seumur hidup.
c.       Perubahan tingkah laku tidak harus segera dapat diamati pada saat proses belajar sedang berlangsung perubahan prilaku tersebut bersifat potensial.
d.      Perubahan tingkah laku merupakan hasil latihan atau pengalaman.
e.       Pengalarnan atau latihan itu dapat memberi penguatan. Sesuatu yang memperkuat itu akan memberikan semangat atau dorongan untuk mengubah tingkah laku. (Baharuddin, 2008: 15).
Jadi ciri-cid belajar dapat dilihat dari adanya perubahan tingkah laku yang relatif permanen. Yang mana perubahan tingkah laku tersebut merupakan hasil latihan atau pengalaman dari proses belajar. Walau terkadang perubahan tingkah laku tersebut tidak bisa langsung diamati pada saat proses belajar. Tapi jelas, bahwa hasil dari belajar hanya dapat diarnati dari tingkah laku yaitu adanya perubahan tingkah laku, dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak terampil menjadi terampil.
3.      Prinsip-Prinsip Belajar
Di dalam tugas melaksanakan proses belajar mengajar, seorang guru perlu memerhatikan beberapa prinsip belajar sebagai berikut. (Soekarno dan Winataputa dalam Baharuddin, 2008: 16).
a.       Apapun yang dipelajari siswa dialah yang harus belajar, bukan orang lain. Untuk itu siswalah yang harus bertindak aktif.
b.      Setiap siswa belajar sesuai dengan tingkat kemampuannya.
c.       Siswa akan dapat belajar dengan baik bila mendapat penguatan langsung pada setiap langkah yang dilakukan selama proses belajar.
d.      Penguatan yang sempurma dari setiap langkah yang dilakukan siswa akan membuat proses belajar lebih berarti.
e.       Motivasi belajar siswa akan lebih meningkat apabila ia diberi tanggung jawab dan kepercayaan penuh atas belajarnya
Dengan memperhatihan hal-hal tersebut di atas (prinsip-prinsip belajar), akan lebih mudah kiranya mengarahkan peserta didik untuk mencapai tujuan pendidikan yang diinginkan.
4.      Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Belajar
a.       Faktor internal (faktor dari dalam siswai), yakni keadaan kondisi jasmani dan rohani siswa.
b.      Faklor eksternal (faktor dari luar siswa), yakni kondisi lingkungan disekitar siswa.
c.       Faktor pendekataan belajar (opproach learning), yakni jenis upaya belajar siswa yang meliputi strategi dan metode yang digunakan siswa untuk melakukan kegiatan mempelajari materi-materi pelajaran.
Faktor-faktor di atas dalam banyak hal sering saling berkaitan dan mempengaruhi satu sama lain. Seorang siswa yang bersikap conserving terhadap ilmu pengetahuan atau bermotif ekstrensik (faktor eksternal) umpamanya, biasanya cenderung mengambil pendekatan belajar yang sederhana dan tidak mendalam. Sebaiknya seorang siswa yang berintelegensi tinggi (faktor internal) dan mendapat dorongan positif dari orang tuanya (faktor eksternal), mungkin akan memiiih pendekatan belajar yang lebih mementingkan kualitas hasil balajar. Jadi karena pengaruh faktor-faktor tersebut di ataslah, muncul siswa-siswi yang high-achieverst (berprestasi tinggi) dan under-achieverst (berprestasi rendah) atau gagal sarna sekali.
Dalam hal ini seorang guru yang kompeten dan profesional diharapkan mampu mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan munculnya kelompok siswa yang menunjukkan gejala kegagalan dengan berusaha mengetahui dan mengatasi faktor yang menghambat proses belajar mereka (Syah, 2005:144).
Dari uraian di atas dapat diketahui adanya 3 faktor yang mempengaruhi belajar, yaitu, faktor internal (faktor dari dalam siswa), factor eksternal (faktor dari luar siswa), dan faktor pendekatan belajar (approach to learning), dimana faktor-faklor tersebut berkaitan dan saling mempengaruhi. Dan 3 faktor tersebutlah yang nantinya menentukan keberhasilan siswa dalam kegiatan belajar.
5.      Tujuan Belajar
Dalarn usaha pencapaian tujuan belajar perlu diciptakan adanya system lingkungan (kondisi) belajar yang lebih kondusif. hal ini akan berkaitan dengan mengajar. Mengajar diartikan sebagai suatu penciptaan system lingkungan yang memungkinkan terjadinya proses belajar. Sistem lingkungan belajar tersebut dipengaruhi oleh berbagai komponen-komponen misalnya tujuan pembelajarm yang ingin dicapai, materi yang ingin diajarkan, guru dan siswa yang krperan serta dalam hubungan sosial tertentu, jenis kegiatan yang dilakukan serta sarana prasarana belajar mengajar yang tersedia. (Sardiman, 2009 : 25-29). Secara umum, tujuan belajar ada tiga jenis yaitu :
a.       Untuk mendapatkan pengetahuan
Hal ini ditandai dengan kemampuan berpikir. Pemilikan pengetahuan dan kemampuan berpikir sebagai sesuatu yang tidak dapat dipisahkan. Dengan kata lain, tidak dapat mengembangkan kemampuan berpikir tanpa bahan pengetahuan, sebaliknya kemampuan berpikir akan memperkaya pengetahuan. Tujuan inilah yang memiliki kecendrungan lebih besar perkembangannya di dalam kegiatan belajar.
b.      Penanaman konsep dan keterampilan
Penanaman konsep atau merumuskan konsep juga memerlukan suatu keterampilan, yaitu keterampilan yang bersifat jasmani dan rohani. Keterampilan jasmani adalah keterampilan-keterampilan yang dapat dilihat, diamati, sehingga dapat menitikberatkan pada keterampilan gerak/ penampilan dari anggota tubuh seseorang yang sedang belajar.
Sedangkan keterampilan rohani adalah keterampilan yang lebih abstrak yang menyangkut persoalan-persoalan penghayatan, dan keterampilan berpikir serta kreativitas untuk menyelesaikan dan merumuskan suatu masalah atau konsep. Jadi semnata-mata bukan soal pengulangan, tapi mencari jawaban yang cepat dan tepat.
Keterampilan memang dapat dididik, yaitu dengan banyak melatih
kemampuan. Demikian juga mengungkapkan perasaan melalui bahasa tulis atau lisan, bukan soal kosa kata atau tata bahasa semua memerlukan banyak latihan. Interaksi yang mengarah pada pencapaian keterampilan itu akan menuruti kaidah-kaidah tertentu dan bukan semata-mata hanya meeghafal atau meniru.
c.       Pembentukan sikap
Dalam menumbuhkan sikap mental, prilaku dan pribadi anak didik, guru harus lebih bijak dan hati-hati dalam pendekatannya. Untuk itu dibutuhkan kecakapan dalam mengarahkan motivasi dan berpikir dengan tidak lupa menggunakan pribadi guru itu sendiri sebagai contoh atau model.
Dalam interaksi belajar mengajar guru akan senantiasa diobservasi, dilihat, didengar, ditiru semua prilakunya oleh para siswanya. Dari proses observasi siswa mungkin juga menirukan prilaku gurunya, sehingga diharapkan terjadi proses internalisasi yang dapat menumbuhkan proses penghayatan pada setiap diri siswa untuk kemudian diamalkan.
Pembentukan sikap mental dan prilaku anak didik, tidak akan terlepas dari soal penanaman nilai-nilai, transfer of values. Oleh karena itu, guru bukan sekedar pengajar, tapi betul-betul sebagai pendidik yang akan memindahkan nilai-nilai itu kepada anak didiknya. Dengan dilandasi nilai-nilai itu, anak didik siswa akan tumbuh kesadaran dan kemauannya, untuk mempraktikkan segala sesuatu yang sudah dipelajarinya. (Sardiman, 2009: 29).
Berdasarkan uraian di atas dapat di simpulkan bahwa pencapaian tujuan belajar berarti akan menghasilkan, hasil belajar. Dimana hasil belajar tersebut meliputi, keilmuan dan pengetahuan (kognitif), penanaman konsep dan keterampilan (afektif), serta pembentukan kepribadian atau sikap (psikomotor).
B.     Prestasi
1.      Pengertian Prestasi
Pada prinsipnya prestasi merupakan pengungkapan hasil balajar. Hasil belajar yang ideal meliputi segenap ranah psikologis yang berubah sebagai akibat pengalaman dan proses balajar siswa. Namun demikian, pengungkapan perubahan tingkah laku seluruh ranah itu khususnya ranah rasa murid, sangat sulit. Hal ini disebabkan perubahan hasil belajar itu ada yang bersifat intangible (tak dapat diraba). Oleh karena itu, yang dapat dilakukan guru dalam hal ini adalah hanya mengambil cuplikan perubahan tingkah laku yang dianggap penting dan diharapkan dapat mencerminkan perubahan yang terjadi sebagai hasil balajar siswa, baik yang berdemensi cipta dan rasa maupun yang berdemansi karsa. (Syah. 2008: 216).



2.      Prestasi Belajar
Prestasi belajar merupakan hal yang tidak dapat dipisatrkan dari kegiatan belajar, karena kegiatan belajar merupakan proses. Sedangkan prestasi merupakan hasil dari proses belajar. Memahami pengertian prestasi belajar secara garis besar harus bertitik tolak pada pengertian belajar itu sendiri. Untuk itu para ahli mengemukakan pendapatnya yang berbeda-beda sesuai dengan pandangan yang mereka anut. Namun dari pendapat yang berbeda itu dapat ditemukan satu titik persamaan.
Sehubungan dengan prestasi belajar. Poerwanto (1986: 28) memberikan pengertian prestasi belajar adalah, hasil yang dicapai oleh seseorang dalam usaha belajar sebagaimana yang dinyatakan dalam raport. Menurut Winkel (1990: 226) mengemukakan bahwa prestasi belajar merupakan bukti keberhasilan atau kemampuan seseorang dalam melakukan kegiatan belajarnya sesuai dengan bobot yang dicapainya. Sedangkan menurut S. Nasution (1996: 17) prestasi belajar adalah kesempumaan seseorang dalam berpikir, merasa, dan berbuat. Prestasi belajar dikatakan sempurna apabila memenuhi tiga aspek yakni; kognitif, afekif dan psikomotor, sebaliknya dikatakan prestasi kurang memuaskan jika seseorang belum mampu memenuhi target dalam ketiga kriteria tersebut. Arif Gunarso (1993: 77) mengemukakan pendapat bahwa prestasi belajar adalah usaha maksimal yang dicapai oleh seseorang setelah melakukan usaha-usaha belajar. (http://Sunartombs.wordpress.com/2009/01/05/pengertianprestasibelajar/).


PERBEDAAN PRESTASI BELAJAR ANTARA SISWA
YANG MELALUI JENJANG TK DENGAN SISWA
YANG TIDAK MELALUI JENJANG TK
DI MI NURUL HUDA KOTA BENGKULU




IAIN.jpg












PROPOSAL PENELITIAN


DISUSUN OLEH:
...................................................
NIM :...................................



DOSEN PEMBIMBING:
......................



PROGRAM STUDI GURU MADRASAH IBTIDAIYAH
(PGMI) J URUSAN TRABIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
(IAIN) ....................

201....

No comments:

Post a Comment