ABU BAKAR ASH-SHIDDIQ, RA
a.
Nama
dan Gelar Abu Bakar r.a
Dalam sejarah,
khalifah pertama terkenal dengan beberapa nama, yang termasyhur diantaranya
adalah Abu Bakar Ash Shiddiq, Al atiq dan Abdullah. Ada satu pendapat yang
mengatakan bahwa beliau dikenal dengan nama-nama atau gelar-gelar tersebut baik
pada zaman Islam maupun zaman Jahiliyah. Pada zaman Jahiliyah, Abu Bakar
dikenal dengan gelar As-Shiddiq, karena beliaulah yang memegang urusan diyat
(tebusan) sebagai wakil dari kaum quraisy.[1]
Abu Bakar dikenal
dengan gelar Al-Atieq karena wajahnya yang tampan. Gelar tersebut berasal dari
kata “Ataqah” yaitu segala yang baik, tetapi ada juga yang berpendapat bahwa
kata tersebut berasal dari kata “Al-‘Itqu” (membebaskan) karena ibunya tidak
mempunyai anak lakilaki yang hidup, lalu ia membawa putranya Abu Bakar ke
Ka’bah dan berdoa. Menurut sebagian riwayat beliau terkenal dengan nama Abdul
ka’bah pada zaman Jahiliyah dan dengan nama bdullah pada zaman Islam. Pada
zaman Islam, beliau dinamakan dengan Ash-shiddiq, karena beliau membenarkan
Nabi tentang peristiwa isra’ dan juga dinamakan dengan Al-Atiq karena Nabi
memberi khabar gembira bahwa Abu Bakar akan bebas dari api neraka.[2]
Abu Bakar
dilahirkan pada tahun kedua atau ketiga tahun gajah, beliau kira-kira dua tahun
lebih muda ari Rasulullah. Namanya Abdullah bin Usman dan terkenal dengan
panggilan Abu Quhafah. Garis keturunannya bertemu dengan garis keturunan
Rasulullah pada Murrah bin Ka’ab yaitu kakek yang ketujuh. Kedua orang tuanya
dari bani Taim yang terkenal ramah dan sopan santun, kaum wanitanya terkenal
dengan sifat lincah dan disenangi suaminya.[3]
b.
KeIslaman
Abu Bakar r.a
1.
Faktor-faktor
penghambat
Faktor-faktor
penghambat yang terdapat dalam diri Abu Bakar adalah paling sedikit bila
dibandingkan dengan sahabat-sahabat Nabi lainnya.
Dalam
perjalanannya untuk mendengarkan seruan akidah baru, manusia dihalangi oleh
berbagai macam hambatan diantaranya fikiran, prilaku dan lingkungan yang tidak
sehat, baik hambatan-hambatan itu berdiri sendiri-sendiri maupun bersatu dalam
diri seseorang. Faktor-faktor penghambat lainnya yang dapat meghalangi
seseorang untuk menjawab seruan tersebut adalah arogansi militer. Arogansi
merupakan sifat yang menjadikan sesorang tidak
mau untuk mendengarkan perkataan dan dakwah atau untuk mengikuti orang
lain. Merasa rugi dengan pergantian yang ada dan cenderung untuk memerangi
dakwah baru sebelum sempat membahas apa yang ada didalamnya dan mengetahui sisi
positifnya yang terkadang baik untuk dirinya.[4]
Semua
faktor-faktor penghambat yang menghalangi seseorang untuk menerima seruan baru
yang mengajak kepada suatu perbaikan tidak kita temukan dalam diri Abu Bakar
atau dapat kita katakana bahwa faktor-faktor pendukungnya jauh lebih besar dari
pada faktor-faktor penghambatnya.
2.
Islamnya
Abu Bakar, r.a
Abu Bakar RA
adalah seorang lelaki merdeka dan hartawan yang besar yang pertama kali sekali beriman (percaya) kepada Nabi SAW
dan seruannya. Dan Nabi SAW sendiri pernah bersabda :[5]
“Aku tidak
mengajak seseorang kepada Islam melainkan ada mundur majunya, kecuali Abu Bakar”.
Diriwayatkan :
pada suatu hari sahabat Abu Bakar RA dan Nabi SAW serta para pengikut beliau
(kaum muslimin) pergi ke masjid. Sesudah
mereka duduk bersama-sama di mesjid, Abu Bakar mohon izin kepada Nabi
SAW untuk berdiri ditengah mesjid dan berseru kepada kaum musyrikin Quraisy
agar supaya mereka itu insyaf dan mengikut kepada seruan Allah dan Utusan-Nya.
Dikala itu Nabi menjawab : “Kita masih sedikit, hai sahabatku! Kita masih
sedikit, hai Abu Bakar!”[6]
Berkali-kali
beliau menjawab demikian kepada abu Bakar. Abu Bakar lalu berdiri teguh di
tengah-tengah mesjid. Lantas berkhutbah dengan suara yang sekeras-kerasnya,
berseru kepada kaum musyrikin Quraisy supaya mengikut seruan Allah dan
utusan-Nya, Nabi Muhammad SAW. Sedangkan Nabi SAW dikala itu tetap duduk
bersama-sama dengan kaum muslimin.[7]
Pada waktu itu
Abu Bakar bin Abi Quhafa dari kabilah Taim adalah teman akrab Muhammad. Ia
senang sekali kepadanya. Karena sudah diketahuinya benar ia sebagai orang yang
bersih, jujur dan dapat dipercaya. Oleh karena itu orang dewasa pertama yang
diajaknya menyembah Allah Yang Esa dan meninggalkan penyembahan berhala, adalah
dia.[8]
Abu bakar tidak
ragu-ragu lagi memenuhi ajakan Muhammad dan beriman pula akan ajakannya itu.
Keimanannya kepada Allah dan kepada Rasul-Nya itu segera diumumkan oleh Abu
Bakar dikalangan teman-temannya. Ia
memang seorang pria yang rupawan. “ menjadi kesayangan masyarakatnya dan amikal
sekali. Dari kalangan Quraisy ia termasuk orang Quraisy yang berketurunan
tinggi dan yang banyak mengetahui segala seluk-beluk bangsa itu, yang baik dan
yang jahat.[9]
Dari kalangan
mayarakatnya yang dipercayai oleh Abu Bakar diajaknya mereka kepada Islam.
Usman bin Affan, Abdurrahman bin ‘Auf, Talhah bin ‘Ubaidillah, Sa’ad bin abi
Waqqash dan Zubair bin ‘I-‘Awwam mengikutinya pula menganut Islam. Kemudian
menyusul pula Abu ‘Ubaida bin ‘I-Djarrah, dan banyak lagi yang lain dari
penduduk Mekkah.[10]
c.
Sifat-sifat
Abu Bakar r.a
Abu Bakar
memiliki ciri-ciri sebagaiman disebutkan dalam beberapa riwayat, yaitu kulitnya
putih kekuning-kuningan, wajahnya ganteng, rambutnya lebat, pipinya tipis,
dahinya menonjol, matanya cekung, mukanya berminyak, pinggangnya kecil, pahanya
keras dan badannya kurus. Beliau memiliki riwayat badan yang tegap sebagaimana
disebutkan dalam sebuah riwayat : ketika masih muda beliau memiliki badan yang
tegap tidak bongkok, beliau tidak jangkung atau pendek. Akan tetapi dalam
beberapa riwayat lain disebutkan bahwa beliau agak pendek, seperti dalam
riwayat ketika beliau berhijrah dengan Rasulullah SAW. Bahwasannya Abu Bakar
lebih ringan dari Amirr bin Fahirah, Amir Fahirah lebih ringan dari Rasulullah
SAW.[11]
Sedangkan
karakteristik kepribadian Abu Bakar ialah seorang yang penyayang, lemah lembut
dan pintar bergaul, dan memiliki sifat-sifat baik yang dimilki oleh orang lain,
diantaranya rendah hati (tawadhu’) dan lemah lembut. Beliau tidak pernah
sombong dihadapan seorang baik zaman Jahiliyah maupun zaman Islam, dan
ketawadhu’an beliau ketika memegang tampuk kepemimpinan (khalifah) lebih Nampak
dari pada sebelum menjadi pemimpin.[12]
Walaupun beliau
memiliki sifat lemah lembut akan tetapi beliau juga memiliki sifat kera
sehingga tahan godaan yang dapat melepaskan ‘tali kekang’ untuk dirinya,
sebagaimana dikatakan oleh Abu Bakar dan sahabatnya. Ketika ia menyampaikan
pidato kenegaraan saat terpilih menjadi khalifah Abu Bakar berkata, “Ketahuilah
bahwa dalam diriku banyak sekali setan yang menggodaku maka apabila kalian
melihat aku sedang marah, jauhilah aku…”.[13]
Abu Bakar baik
ketika masa Jahiliyah atau masa Islam memiliki perangai yang baik, selalu
menjaga kehormatan dirinya dan meninggalkan segala yang meragukan untuk
dikerjakan, tidak pernah minum arak (khamar) sama sekali, karena khamar
itu dapat menghilangkan kehormatan diri. Beliau sudha sangat terkenal
kejujurannya (shidiq) , menepati janji pmberani baik dalam menyampaikan
pendapat maupun dalam peperangan.[14]
Kelebihan Abu
Bakar juga dapat dilihat dari daya intelektualitasnya cukup tinggi, tidak ada
sahabat yang memilikinya, sampai-sampai Abu Bakar dan Abu Ubaidah sring disebut
“Cendikiawan Kaum Quraisy”. Beliaulah orang yang paling mengerti wahyu yang
disampaikan oleh Nabi dengan makna tersirat (talmih). Dia juga orang
yang menemani Rasulullah ketika hijrah (tsani isnain) dan pemuka agama
Islam.[15]
d.
Wawasan
Abu Bakar, r.a
Abu Bakar adalah orang yang sangat memperhatikan kata-kata yang
terucap dari mulutnya. Beliau adalah orang yang sangat mengetahui muru’ah
(nilai-nilai kemanusiaa) dan kemuliaan seseorang. Maka kata-katanya selalu
singkat dan padat, begitu juga beliau selalu memberikan wasiat supaya sedikit
berbicara. Wasiat ini terlebih dahulu dikemukakan kepada wali-wali dan
staf-stafnya. Abu Bakar selalu menghindari pembicaraan yang berlebih-lebihan
dan berbahaya.[16]
Abu Bakar adalah sahabat yang paling dekat dan sering menyertai
Nabi Muhammad. Tetapi walaupun demikian, Abu Bakar tidak banyak meriwayatkan
hadits-hadits Nabi, hanya sekitar 140 buah hadits, dan yang ditulis oleh
Bukhari dan Muslim tidak lebih dari sepertujuhnya. Hal itu karena Abu Bakar
meninggal sebelum ada usaha untuk membukukannya.[17]
Adapun pembicaran beliau adalah termasuk yang paling baik dalam
ukuran manusia, baik dilihat dari segi balaghah, akhlak dan hikmah. Diantara
contoh mutiara-mutiara kata yang timbul dari hati dan pikiran beliau dari
ucapannya, seperti:[18]
“ Carilah mati, niscaya kalian akan dianugerahi kehidupan”
“kebenaran yang paling benar adalah amanah dan dusta yang paling
dusta adalah khianat”.
“sabar adalah sebagian dari iman, dan yakin itu keseluruhan iman.”
Abu bakar memiliki kepintaran dan kemahiran dalam berbicara.
e.
Abu
Bakar, r.a dan Keluarganya
Abu Bakar
adalah laki-laki rumah tangga atau laki-laki keluarga. Tanggung jawabnya
terhadap rumah tangga tidak didasarkan pada kewajiban saja, tetapi bersandar
pula pada rasa semangat kekeluargaan, cinta kasih, dan kebersamaan. Beliau
adalah seorang anak yang berbakti kepada orang tua. Beliau juga seorang Bapak
yang penyayang karena kasih saying kepada anak-anak adalah ghazirah (instink)
manusia. Beliau juga merupakan suami yang setia kepada isteri. Pada dirinya
terpancar tipe manusia yang berwatak sosial kemasyarakatan.[19]
Abu Bakar
mengawini dua orang isteri di zaman jahiliyah dan dua orang istri di zaman
Islam, diantaranya Ummu Ruman ibu kedua anaknya Abdurrahman dan Aisyah. Isteri
yang lain adalah Habibah binti Kharijah yang meninggal setelah melahirkan Umi
Kulsum.[20]
f.
Abu
Bakar sebagai Khalifah Pertama
Abu Bakar
adalah Khalifah yang pertama, ada beberapa faktor yang mendukung Abu Bakar
sebagai khalifah pertama yaitu :[21]
1.
Abu
Bakar adalah sahabat nabi yang pertama
2.
Dalam
jiwanya terpenuhi syarat-syarat untuk menjadi seorang khalifah yang tidak
dimiliki oleh orang lain pada masanya.
3.
Keistimewaan
yang dimilkinya mendorong orang-orang settingkat dengan dia dan kawan-kawannya
mengangkatnya menjadi khalifah tidak akan sia-sia begitu saja, karena dengan
demikian Islam tidak akan dirugikan
g.
Tindakan
Abu Bakar r.a terhadap Misthah.
Ummu Misthah
adalah seorang yang masih family dengan Abu Bakar RA, ia selama ini mengikut
dan menjadi tanggungan beliau. Tetapi anaknya bernama Misthah ketika itu
terlibat dalam urusan “tuduhan dusta” atas diri Aisyah, ikut menyiar-nyiarkan
berita dusta yang mengandung tuduhan jahat atas diri Aisyah.[22]
Selayaknya
manusia biasa, Abu Bakar tentu sakit hati mendengar berita tersebut, sehingga
ia mengucapkan sumpah untuk tidak lagi memberikan nafkah kepada Misthah. Namun
setelah turun ayat Allah (QS. An-Nuur ayat 22-26) yang dibacakan oleh Nabi SAW,
akhirnya Abu Bakar mencabut sumpahnya dan tidak akan mencabut nafkah Misthah
selama-lamanya.[23]
h.
Abu
Bakar diperintahkan memimpin Jama’ah Haji
Menurut
riwayat, bahwa pada bulan Dzulqaidah tahun ke 9 Hijriah, Nani SAW memerintahkan
kepada sahabat Abu Bakar Ash Shiddiq, r.a supaya memimpin rombongan jama’ah
Haji Kaum Muslimin dari Madinah sebanyak 300 orang. Mereka membawa unta untuk
dikorbankan sebanyak 20 ekor dari Nabi SAW dan 5 ekor dari Abu Bakar sendiri.[24]
Sebenarnya Nabi
SAW sendiri dikala itu ingin sekali untuk mengerjakan ibadah haji, tetapi
berhubung karena banyaknya urusan yang harus beliau selesaikan terutama karena
banyaknya utusan-utusan yang dating dari segala penjuru kepada beliau untuk
menyatakan ke Islaman mereka, maka untuk memimpin rombongan jama’ah haji dari
Madinah diserahkan oleh beliau kepada Abu Bakar, ra.[25]
DAFTAR
PUSTAKA
Al Aqqad, Mahmud, Abbas. Kejeniusan Abu Bakar Ash Shiddiq.
Jakarta: Pustaka Azzam. 2001.
Chalil, Moenawar, KH. Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad Shallallahu
Alaihi Wasallam Buku kedua cet ke 6. Jakarta: Bulan Bintang, 1993.
Chalil, Moenawar, KH. Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad
Shallallahu Alaihi Wasallam Buku keempat cet ke 6. Jakarta: Bulan Bintang,
1993.
Chalil, Moenawar, KH. Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad
Shallallahu Alaihi Wasallam Buku ketujuh cet ke 7. Jakarta: Bulan Bintang,
1994.
Haekal, Muhammad Husein. Sejarah Hidup Muhammad. Jakarta:
PT. Pustaka Litera Antar Nusa, 2003.
.
[1] Abbas
Mahmud, Kejeniusan Abu Bakar Ash Shiddiq. (Jakarta: Pustaka Azzam.
2001),. h. 28
[2] Ibid,
h. 29
[3] Ibid.
[4] Ibid.
h. 100-101.
[5] Moenawar
Chalil, Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam Buku
kedua cet ke 6. (Jakarta: Bulan Bintang, 1993). h.
[6] Ibid.
[7] Ibid.
h.
[8]
Muhammad Husein Haekal, Sejarah Hidup Muhammad. (Jakarta: PT. Pustaka
Litera Antar Nusa, 2003). h. 89.
[9] Ibid.
h. 89-90
[10] Ibid.
h. 90
[11]
Abbas Mahmud. Ibid. h. 58
[12] Ibid.
h. 59
[13] Ibid.
h. 60
[14] Ibid.
h. 61-62
[15] Ibid.
h. 62
[16] Ibid.
h. 197
[17] Ibid.
[18] Ibid.
h. 197-198.
[19] Ibid.
h. 203.
[20] Ibid.
h. 205.
[21] Ibid.
h. 57
[22] Moenawar
Chalil, Kelengkapan Ta rikh Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam Buku keempat
cet ke 6. (Jakarta: Bulan Bintang, 1993). h. 263.
[23] Ibid.
h. 264-266.
[24] Moenawar Chalil, Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad Shallallahu
Alaihi Wasallam Buku ketujuh cet ke 7. (Jakarta: Bulan Bintang, 1994). h.
21-22.
[25] Ibid.
h. 22
No comments:
Post a Comment