Monday, April 20, 2015

MAKALAH MENGENAL ABU BAKAR SIDDIQ RA

ABU  BAKAR ASH-SHIDDIQ, RA

a.      Nama dan Gelar Abu Bakar r.a
Dalam sejarah, khalifah pertama terkenal dengan beberapa nama, yang termasyhur diantaranya adalah Abu Bakar Ash Shiddiq, Al atiq dan Abdullah. Ada satu pendapat yang mengatakan bahwa beliau dikenal dengan nama-nama atau gelar-gelar tersebut baik pada zaman Islam maupun zaman Jahiliyah. Pada zaman Jahiliyah, Abu Bakar dikenal dengan gelar As-Shiddiq, karena beliaulah yang memegang urusan diyat (tebusan) sebagai wakil dari kaum quraisy.[1]
Abu Bakar dikenal dengan gelar Al-Atieq karena wajahnya yang tampan. Gelar tersebut berasal dari kata “Ataqah” yaitu segala yang baik, tetapi ada juga yang berpendapat bahwa kata tersebut berasal dari kata “Al-‘Itqu” (membebaskan) karena ibunya tidak mempunyai anak lakilaki yang hidup, lalu ia membawa putranya Abu Bakar ke Ka’bah dan berdoa. Menurut sebagian riwayat beliau terkenal dengan nama Abdul ka’bah pada zaman Jahiliyah dan dengan nama bdullah pada zaman Islam. Pada zaman Islam, beliau dinamakan dengan Ash-shiddiq, karena beliau membenarkan Nabi tentang peristiwa isra’ dan juga dinamakan dengan Al-Atiq karena Nabi memberi khabar gembira bahwa Abu Bakar akan bebas dari api neraka.[2]
Abu Bakar dilahirkan pada tahun kedua atau ketiga tahun gajah, beliau kira-kira dua tahun lebih muda ari Rasulullah. Namanya Abdullah bin Usman dan terkenal dengan panggilan Abu Quhafah. Garis keturunannya bertemu dengan garis keturunan Rasulullah pada Murrah bin Ka’ab yaitu kakek yang ketujuh. Kedua orang tuanya dari bani Taim yang terkenal ramah dan sopan santun, kaum wanitanya terkenal dengan sifat lincah dan disenangi suaminya.[3]

b.      KeIslaman Abu Bakar r.a
1.      Faktor-faktor penghambat
Faktor-faktor penghambat yang terdapat dalam diri Abu Bakar adalah paling sedikit bila dibandingkan dengan sahabat-sahabat Nabi lainnya.
Dalam perjalanannya untuk mendengarkan seruan akidah baru, manusia dihalangi oleh berbagai macam hambatan diantaranya fikiran, prilaku dan lingkungan yang tidak sehat, baik hambatan-hambatan itu berdiri sendiri-sendiri maupun bersatu dalam diri seseorang. Faktor-faktor penghambat lainnya yang dapat meghalangi seseorang untuk menjawab seruan tersebut adalah arogansi militer. Arogansi merupakan sifat yang menjadikan sesorang tidak  mau untuk mendengarkan perkataan dan dakwah atau untuk mengikuti orang lain. Merasa rugi dengan pergantian yang ada dan cenderung untuk memerangi dakwah baru sebelum sempat membahas apa yang ada didalamnya dan mengetahui sisi positifnya yang terkadang baik untuk dirinya.[4]
Semua faktor-faktor penghambat yang menghalangi seseorang untuk menerima seruan baru yang mengajak kepada suatu perbaikan tidak kita temukan dalam diri Abu Bakar atau dapat kita katakana bahwa faktor-faktor pendukungnya jauh lebih besar dari pada faktor-faktor penghambatnya.
2.      Islamnya Abu Bakar, r.a
Abu Bakar RA adalah seorang lelaki merdeka dan hartawan yang besar yang pertama  kali sekali beriman (percaya) kepada Nabi SAW dan seruannya. Dan Nabi SAW sendiri pernah bersabda :[5]
Aku tidak mengajak seseorang kepada Islam melainkan ada mundur majunya, kecuali Abu Bakar”.
Diriwayatkan : pada suatu hari sahabat Abu Bakar RA dan Nabi SAW serta para pengikut beliau (kaum muslimin) pergi ke masjid. Sesudah  mereka duduk bersama-sama di mesjid, Abu Bakar mohon izin kepada Nabi SAW untuk berdiri ditengah mesjid dan berseru kepada kaum musyrikin Quraisy agar supaya mereka itu insyaf dan mengikut kepada seruan Allah dan Utusan-Nya. Dikala itu Nabi menjawab : “Kita masih sedikit, hai sahabatku! Kita masih sedikit, hai Abu Bakar!”[6]
Berkali-kali beliau menjawab demikian kepada abu Bakar. Abu Bakar lalu berdiri teguh di tengah-tengah mesjid. Lantas berkhutbah dengan suara yang sekeras-kerasnya, berseru kepada kaum musyrikin Quraisy supaya mengikut seruan Allah dan utusan-Nya, Nabi Muhammad SAW. Sedangkan Nabi SAW dikala itu tetap duduk bersama-sama dengan kaum muslimin.[7]
Pada waktu itu Abu Bakar bin Abi Quhafa dari kabilah Taim adalah teman akrab Muhammad. Ia senang sekali kepadanya. Karena sudah diketahuinya benar ia sebagai orang yang bersih, jujur dan dapat dipercaya. Oleh karena itu orang dewasa pertama yang diajaknya menyembah Allah Yang Esa dan meninggalkan penyembahan berhala, adalah dia.[8]
Abu bakar tidak ragu-ragu lagi memenuhi ajakan Muhammad dan beriman pula akan ajakannya itu. Keimanannya kepada Allah dan kepada Rasul-Nya itu segera diumumkan oleh Abu Bakar dikalangan  teman-temannya. Ia memang seorang pria yang rupawan. “ menjadi kesayangan masyarakatnya dan amikal sekali. Dari kalangan Quraisy ia termasuk orang Quraisy yang berketurunan tinggi dan yang banyak mengetahui segala seluk-beluk bangsa itu, yang baik dan yang jahat.[9]
Dari kalangan mayarakatnya yang dipercayai oleh Abu Bakar diajaknya mereka kepada Islam. Usman bin Affan, Abdurrahman bin ‘Auf, Talhah bin ‘Ubaidillah, Sa’ad bin abi Waqqash dan Zubair bin ‘I-‘Awwam mengikutinya pula menganut Islam. Kemudian menyusul pula Abu ‘Ubaida bin ‘I-Djarrah, dan banyak lagi yang lain dari penduduk Mekkah.[10]

c.       Sifat-sifat Abu Bakar r.a
Abu Bakar memiliki ciri-ciri sebagaiman disebutkan dalam beberapa riwayat, yaitu kulitnya putih kekuning-kuningan, wajahnya ganteng, rambutnya lebat, pipinya tipis, dahinya menonjol, matanya cekung, mukanya berminyak, pinggangnya kecil, pahanya keras dan badannya kurus. Beliau memiliki riwayat badan yang tegap sebagaimana disebutkan dalam sebuah riwayat : ketika masih muda beliau memiliki badan yang tegap tidak bongkok, beliau tidak jangkung atau pendek. Akan tetapi dalam beberapa riwayat lain disebutkan bahwa beliau agak pendek, seperti dalam riwayat ketika beliau berhijrah dengan Rasulullah SAW. Bahwasannya Abu Bakar lebih ringan dari Amirr bin Fahirah, Amir Fahirah lebih ringan dari Rasulullah SAW.[11]
Sedangkan karakteristik kepribadian Abu Bakar ialah seorang yang penyayang, lemah lembut dan pintar bergaul, dan memiliki sifat-sifat baik yang dimilki oleh orang lain, diantaranya rendah hati (tawadhu’) dan lemah lembut. Beliau tidak pernah sombong dihadapan seorang baik zaman Jahiliyah maupun zaman Islam, dan ketawadhu’an beliau ketika memegang tampuk kepemimpinan (khalifah) lebih Nampak dari pada sebelum menjadi pemimpin.[12]
Walaupun beliau memiliki sifat lemah lembut akan tetapi beliau juga memiliki sifat kera sehingga tahan godaan yang dapat melepaskan ‘tali kekang’ untuk dirinya, sebagaimana dikatakan oleh Abu Bakar dan sahabatnya. Ketika ia menyampaikan pidato kenegaraan saat terpilih menjadi khalifah Abu Bakar berkata, “Ketahuilah bahwa dalam diriku banyak sekali setan yang menggodaku maka apabila kalian melihat aku sedang marah, jauhilah aku…”.[13]
Abu Bakar baik ketika masa Jahiliyah atau masa Islam memiliki perangai yang baik, selalu menjaga kehormatan dirinya dan meninggalkan segala yang meragukan untuk dikerjakan, tidak pernah minum arak (khamar) sama sekali, karena khamar itu dapat menghilangkan kehormatan diri. Beliau sudha sangat terkenal kejujurannya (shidiq) , menepati janji pmberani baik dalam menyampaikan pendapat maupun dalam peperangan.[14]
Kelebihan Abu Bakar juga dapat dilihat dari daya intelektualitasnya cukup tinggi, tidak ada sahabat yang memilikinya, sampai-sampai Abu Bakar dan Abu Ubaidah sring disebut “Cendikiawan Kaum Quraisy”. Beliaulah orang yang paling mengerti wahyu yang disampaikan oleh Nabi dengan makna tersirat (talmih). Dia juga orang yang menemani Rasulullah ketika hijrah (tsani isnain) dan pemuka agama Islam.[15]
d.      Wawasan Abu Bakar, r.a
Abu Bakar adalah orang yang sangat memperhatikan kata-kata yang terucap dari mulutnya. Beliau adalah orang yang sangat mengetahui muru’ah (nilai-nilai kemanusiaa) dan kemuliaan seseorang. Maka kata-katanya selalu singkat dan padat, begitu juga beliau selalu memberikan wasiat supaya sedikit berbicara. Wasiat ini terlebih dahulu dikemukakan kepada wali-wali dan staf-stafnya. Abu Bakar selalu menghindari pembicaraan yang berlebih-lebihan dan berbahaya.[16]
Abu Bakar adalah sahabat yang paling dekat dan sering menyertai Nabi Muhammad. Tetapi walaupun demikian, Abu Bakar tidak banyak meriwayatkan hadits-hadits Nabi, hanya sekitar 140 buah hadits, dan yang ditulis oleh Bukhari dan Muslim tidak lebih dari sepertujuhnya. Hal itu karena Abu Bakar meninggal sebelum ada usaha untuk membukukannya.[17]
Adapun pembicaran beliau adalah termasuk yang paling baik dalam ukuran manusia, baik dilihat dari segi balaghah, akhlak dan hikmah. Diantara contoh mutiara-mutiara kata yang timbul dari hati dan pikiran beliau dari ucapannya, seperti:[18]
“ Carilah mati, niscaya kalian akan dianugerahi kehidupan”
“kebenaran yang paling benar adalah amanah dan dusta yang paling dusta adalah khianat”.
“sabar adalah sebagian dari iman, dan yakin itu keseluruhan iman.”
Abu bakar memiliki kepintaran dan kemahiran dalam berbicara.
e.       Abu Bakar, r.a dan Keluarganya
Abu Bakar adalah laki-laki rumah tangga atau laki-laki keluarga. Tanggung jawabnya terhadap rumah tangga tidak didasarkan pada kewajiban saja, tetapi bersandar pula pada rasa semangat kekeluargaan, cinta kasih, dan kebersamaan. Beliau adalah seorang anak yang berbakti kepada orang tua. Beliau juga seorang Bapak yang penyayang karena kasih saying kepada anak-anak adalah ghazirah (instink) manusia. Beliau juga merupakan suami yang setia kepada isteri. Pada dirinya terpancar tipe manusia yang berwatak sosial kemasyarakatan.[19]
Abu Bakar mengawini dua orang isteri di zaman jahiliyah dan dua orang istri di zaman Islam, diantaranya Ummu Ruman ibu kedua anaknya Abdurrahman dan Aisyah. Isteri yang lain adalah Habibah binti Kharijah yang meninggal setelah melahirkan Umi Kulsum.[20]

f.       Abu Bakar sebagai Khalifah Pertama
Abu Bakar adalah Khalifah yang pertama, ada beberapa faktor yang mendukung Abu Bakar sebagai khalifah pertama yaitu :[21]
1.      Abu Bakar adalah sahabat nabi yang pertama
2.      Dalam jiwanya terpenuhi syarat-syarat untuk menjadi seorang khalifah yang tidak dimiliki oleh orang lain pada masanya.
3.      Keistimewaan yang dimilkinya mendorong orang-orang settingkat dengan dia dan kawan-kawannya mengangkatnya menjadi khalifah tidak akan sia-sia begitu saja, karena dengan demikian Islam tidak akan dirugikan

g.      Tindakan Abu Bakar r.a terhadap Misthah.
Ummu Misthah adalah seorang yang masih family dengan Abu Bakar RA, ia selama ini mengikut dan menjadi tanggungan beliau. Tetapi anaknya bernama Misthah ketika itu terlibat dalam urusan “tuduhan dusta” atas diri Aisyah, ikut menyiar-nyiarkan berita dusta yang mengandung tuduhan jahat atas diri Aisyah.[22]
Selayaknya manusia biasa, Abu Bakar tentu sakit hati mendengar berita tersebut, sehingga ia mengucapkan sumpah untuk tidak lagi memberikan nafkah kepada Misthah. Namun setelah turun ayat Allah (QS. An-Nuur ayat 22-26) yang dibacakan oleh Nabi SAW, akhirnya Abu Bakar mencabut sumpahnya dan tidak akan mencabut nafkah Misthah selama-lamanya.[23]

h.      Abu Bakar diperintahkan memimpin Jama’ah Haji
Menurut riwayat, bahwa pada bulan Dzulqaidah tahun ke 9 Hijriah, Nani SAW memerintahkan kepada sahabat Abu Bakar Ash Shiddiq, r.a supaya memimpin rombongan jama’ah Haji Kaum Muslimin dari Madinah sebanyak 300 orang. Mereka membawa unta untuk dikorbankan sebanyak 20 ekor dari Nabi SAW dan 5 ekor dari Abu Bakar sendiri.[24]
Sebenarnya Nabi SAW sendiri dikala itu ingin sekali untuk mengerjakan ibadah haji, tetapi berhubung karena banyaknya urusan yang harus beliau selesaikan terutama karena banyaknya utusan-utusan yang dating dari segala penjuru kepada beliau untuk menyatakan ke Islaman mereka, maka untuk memimpin rombongan jama’ah haji dari Madinah diserahkan oleh beliau kepada Abu Bakar, ra.[25]














DAFTAR PUSTAKA
Al Aqqad, Mahmud, Abbas. Kejeniusan Abu Bakar Ash Shiddiq. Jakarta: Pustaka Azzam. 2001.
Chalil, Moenawar, KH. Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam Buku kedua cet ke 6. Jakarta: Bulan Bintang, 1993.
Chalil, Moenawar, KH. Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam Buku keempat cet ke 6. Jakarta: Bulan Bintang, 1993.
Chalil, Moenawar, KH. Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam Buku ketujuh cet ke 7. Jakarta: Bulan Bintang, 1994.
Haekal, Muhammad Husein. Sejarah Hidup Muhammad. Jakarta: PT. Pustaka Litera Antar Nusa,  2003.
.






[1] Abbas Mahmud, Kejeniusan Abu Bakar Ash Shiddiq. (Jakarta: Pustaka Azzam. 2001),. h. 28
[2] Ibid, h. 29
[3] Ibid.
[4] Ibid. h. 100-101.
[5] Moenawar Chalil, Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam Buku kedua cet ke 6. (Jakarta: Bulan Bintang, 1993). h.
[6] Ibid.
[7] Ibid. h.
[8] Muhammad Husein Haekal, Sejarah Hidup Muhammad. (Jakarta: PT. Pustaka Litera Antar Nusa,  2003). h. 89.
[9] Ibid. h. 89-90
[10] Ibid. h. 90
[11] Abbas Mahmud. Ibid. h. 58
[12] Ibid. h. 59
[13] Ibid. h. 60
[14] Ibid. h. 61-62
[15] Ibid. h. 62
[16] Ibid. h. 197
[17] Ibid.
[18] Ibid. h. 197-198.
[19] Ibid. h. 203.
[20] Ibid. h. 205.
[21] Ibid. h. 57
[22] Moenawar Chalil, Kelengkapan Ta rikh Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam Buku keempat cet ke 6. (Jakarta: Bulan Bintang, 1993). h. 263.
[23] Ibid. h. 264-266.
[24] Moenawar Chalil, Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam Buku ketujuh cet ke 7. (Jakarta: Bulan Bintang, 1994). h. 21-22.
[25] Ibid. h. 22

No comments:

Post a Comment