BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Konseling
adalah sebuah penemuan abad ke-20. Kiat ketahui, bahwa sekarang kita hidup
dalam dunia yang sibuk dan perubahan-perubahan yang terus terjadi seiring
perubahan zaman. Kehidupan yang komplek begitu sering dikatakan.
Pada umumnya
sangat banyak pengalaman yang sulit dihadapi oleh seseorang. Biasanya, dalam
menghadapi semua masalah ini, kita akan sherring dengan keluarga, teman, atau
kerabat dekat. Tapi memang tidak selalu saran yang diberikan akan memuaskan hati
kita dan pikiran kita. Pada saat itulah, konseling merupakan pilihan yang
berguna dalam membantu pemecahan masalah kita.
Kita pasti
tahu, salah satu lembaga konseling yang selalu berhadapan dengan kehidupan pada
umumnya adalah disekolah. Sekolah tidak hanya berfungsi memberikan pengetahuan
dalam kegiatan belajar-mengajar di kelas, tetapi juga dapat mengembangkan
bakat, mencerdaskan anak, memotivasi, bahkan mampu mengembangkan keseluruhan
kepribadian anak. Oleh karena itu, sebagai seorang guru, kita harus mengetahui
keseluruhan kepribadian anak, guru harus mengetahui lebih dari sekedar masalah
bagaimana mengajar yang efektif tetapi seorang guru juga harus dapat membantu
murid dalam mengembangkan semua aspek kepribadian dalam diri anak dan tentu
lingkungannya. Dalam usaha membantu siswa, seorang guru sangat perlu mengetahui
landasan, konsep, prosedur, dan praktik bimbingan. Agar seorang guru mampu
membimbing anak secara professional.
Hal yang
melatar belakangi pembuatan makalah ini adalah bahwa seorang guru harus
mempunyai wawasan tentang layanan bimbingan dan konseling terutama di sekolah.
B.
Rumusan
Masalah
1.
Apakah
pengertian bimbingan dan konseling sebagai profesi?
2.
Bagaimana
pengembangan profesi bimbingan dan konseling?
3.
Bagaimana
perkembangan gerakan bimbingan dan konseling di Indonesia?
C.
Tujuan
Penulisan
Tujuan
dibuatnya makalah ini yaitu selain memenuhi tugas mata kuliah Profesi
Kependidikan, tetapi juga untuk mengatahui dan memahami pengertian bimbingan
dan konseling sebagai profesi, untuk mengetahui bagaimana pengembangan profesi
bimbingan dan konseling, serta untuk mengetahui perkembangan gerakan bimbingan
dan konseling di Indonesia.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Bimbingan dan Konseling Sebagai Profesi
1.
Pengertian
Bimbingan dan Konseling
Bimbingan dan
konseling merupakan dua istilah yang sering di rangkaikan bagaikan kata
majemuk. Beberapa ahli mengatakan bahwa konseling merupakan inti atau jantung
hati dari kegiatan bimbingan. Adapula yang menyatakan bahwa konseling merupakan
salah satu jenis layanan bimbingan. Dengan demikian dalam istilah bimbingan
sudah termasuk didalamnya kegiatan konseling.
Banyak para
ahli berusaha merumuskan pengertian bimbingan dan konseling, diantaranya :
Rumusan tentang
istilah bimbingan :
Menurut Rochman
Natawidjaja (1978), bimbingan adalah proses pemberian bantuan kepada individu
yang dilakukan secara berkesinambungan, supaya individu tersebut dapat
memahami dirinya sehingga ia sanggup mengarahkan diri dan dapat bertindak wajar
sesuai dengan tuntutan dan keadaan keluarga serta masyarakat.
Menurut Bimo
Walgito (1982: 11), bimbingan adalah bantuan atau pertolongan yang diberikan
kepada individu atau sekumpulan individu-individu dalam menghindari atau
mengatasi kesulitan-kesulitan di dalam kehidupannya, agar individu-individu itu
dapat mencapai kesejahteraan hidupnya.
Dari beberapa
pengertian bimbingan yang dikemukakan oleh para ahli, dapat dikemukakan bahwa
bimbingan merupakan :
a.
Suatu
proses yang berkesinambungan
b.
Suatu
proses membantu individu
c.
Bantuan
yang diberikan dimaksudkan agar individu yang bersangkutan dapat mengarahkan
dan mengembangkan dirinya secara optimal sesuai dengan kemampuan/potensinya,
dan
d.
Kegiatan
yang bertujuan utama memberikan bantuan agar individu dapat memahami keadaan
dirinya dan mampu menyesuaikan dengan lingkungannya.
Rumusan tentang
istilah konseling :
Menurut James
P. Adam (1976: 19a), konseling adalah suatu pertalian timbal balik antara dua
orang individu di mana yang seorang (konselor) membantu yang lain (konseli)
supaya dia dapat lebih baik memahami dirinya dalam hubungannya dengan masalah
hidup yang dihadapinya pada waktu itu dan pada waktu yang akan datang.
Menurut Bimo
Walgito (1982: 11), konseling adalah bantuan yang diberikan kepada individu
dalam memecahkan masalah kehidupannya dengan wawancara, dengan cara-cara yang
sesuai dengan keadaan individu yang dihadapi untuk mencapai kesejahteraan
hidupnya.
2.
Pengertian
Profesi
Profesi itu
pada hakikatnya adalah suatu pernyataan atau suatu janji terbuka, bahwa
seseorang akan mengabdikan dirinya kepada suatu pekerjaan, tidak berganti-ganti
pekerjaan dan selalu bertanggung jawab terhadap keputusan yang diambil dan
bertanggung jawab atas apa yang dilakukan, serta mempunyai komitmen terhadap
pekerjaannya.
Istilah
“profesi” memang selalu menyangkut pekerjaan , tetapi tidak semua pekerjaan
dapat disebut profesi.
Profesi adalah
suatu jabatan atau pekerjaan yang menuntut keterampilan dan keahlian tertentu
dari para petugasnya. Artinya, pekerjaan yang disebut profesi itu tidak setiap
orang bisa melakukannya dan tidak bisa dilakukan oleh orang yang tidak terlatih
serta orang yang tidak disiapkan secara khusus terlebih dahulu untuk melakukan
pekerjaan itu.
Jadi, dapat
disimpulkan bahwa bimbingan dan konseling sebagai profesi merupakan suatu
hubungan yang saling berkaitan, dimana disana terdapat proses membantu orang
lain atau bias dikatakan membimbing orang lain agar orang tersebut memiliki
pribadi yang lebih baik dalam memahami dirinya yang dilakukan oleh seseorang
dalam suatu pekerjaan (profesi).
B.
Pengembangan
Profesi Bimbingan dan Konseling
Bila tujuan
pendidikan pada akhirnya adalah pembentukan manusia yang utuh, maka proses
pendidikan harus dapat membantu siswa mencapai kematangan emosional dan sosial.
Disini bimbingan dan konseling memang menangani masalah-masalah atau hal-hal di
luar bidang garapan pengajaran, tetapi secara tidak langsung menunjang
tercapainya tujuan pendidikan dan pengajaran di sekolah itu. Dan dapat
dirasakan bahwa bimbingan dan konseling semakin hari semakin dirasakan perlu
keberadaannya di setiap sekolah, dari itu perlu adanya pengembangan profesi
bimbingan dan konseling.
Pengembangan
profesi bimbingan dan konseling antara lain melalui :
1.
Standardisasi
untuk kerja professional konselor,
2.
Standardisasi
penyiapan konselor,
3.
Akreditasi,
4.
Stratifikasi
dan lisensi, dan
5.
Pengembangan
organisasi profesi.
1.
Standardisasi
untuk Kerja Profesional Konselor
Banyak orang
memandang bahwa pekerjaan bimbingan dan konseling dapat dilakukan oleh
siapa pun juga dan ada anggapan yang mengatakan bahwa pelayanan bimbingan dan
konseling semata-mata diarahkan kepada pemberian bantuan berkenaan dengan
upaya pemecahan masalah dalam arti yang sempit saja. Tapi pada dasarnya,
berbagai jenis bantuan dan kegiatan itu menuntut adanya unjuk kerja
professional tertentu.
Rumusan tentang
unjuk kerja itu mengacu kepada wawasan dan keterampilan. Keseluruhan rumusan
untuk kerja itu meliputi 28 gugus yang masing-masing terdiri atas sejumlah
butir untuk kerja, sehingga semua berjumlah 225 butir. Ke-28 gugus itu adalah :
-
Mengajar
dalam bidang psikologi dan bimbingan dan konseling.
-
Mengorganisasikan
program bimbingan dan konseling.
-
Menyusun
program bimbingan dan konseling.
-
Memasyaratkan
pelayanan bimbingan dan konseling.
-
Mengungkapkan
masalah klien.
-
Menyelenggarakan
pengumpulan data tentang minat, bakat, kemampuan, dan kondisi kepribadian.
-
Menyusun
dan mengembangkan himpunan data.
-
Menyelenggarakan
konseling perorangan.
-
Menyelenggarakan
bimbingan dan konseling kelompok.
-
Menyelenggarakan
orientasi studi siswa.
-
Menyelenggarakan
kegiatan ko/ekstrakurikuler.
-
Membantu
guru bidang studi dalam mendiagnosis kesulitan belajar siswa.
-
Membantu
guru bidang studi daklam menyelenggarakan pengajaran perbaikan dan program
pengayaan.
-
Menyelenggarakan
bimbingan kelompok belajar.
-
Menyelenggarakan
pelayanan penempatan siswa.
-
Menyelenggarakan
bimbingan karier dan pemberian informasi pendidikan/jabatan.
-
Menyelenggarakan
konferensi kasus.
-
Menyelenggarakan
terapi kepustakaan.
-
Melakukan
kunjungan rumah.
-
Menyelenggarakan
lingkungan klien.
-
Merangsang
perubahan lingkungan klien.
-
Menyelenggarakan
konsultasi khusus.
-
Mengantar
dan menerima alih tangan.
-
Menyelenggarakan
diskusi professional.
-
Memahami
dan menulis karya-karya ilmiah dalam bidang BK.
-
Memahami
dan menyelenggarakan penelitian dalam bidang BK.
-
Menyelenggarakan
kegiatan BK pada lembaga/lingkungan yang berbeda.
-
Berpartisipasi
aktif dalkam pengembangan profesi BK.
2.
Standardisasi
Penyiapan Konselor
Pada dasarnya
tujuan penyiapan konselor ialah agar para konselor memiliki wawasan sehingga
dapat melaksanakan dengan sebaik-baiknya materi dan keterampilan yang
terkandung dalam butir-butir rumusan untuk kerja.
Penyiapan
konselor melalui program pendidikan dalam jabatan, memang waktunya cukup lama,
tentunya dimulai dari seleksi dan penerimaan calon mahasiswa yang akan
mengikuti program sampai para lulusannya diwisuda.
a.
Penerimaan
Mahasiswa
Pemilihan calon
mahasiswa adalah tahap awal dalam proses penyiapan konselor. Kegiatan ini
sangat penting dalam menentukan pemerolehan calon konselor yang diharapkan.
Komisi tugas, standar, dan kualifikasi konselor Amerika Serikat (Mortensi &
Schmuller,1976), mengemukakan syarat-syarat pribadi yang harus dimiliki oleh
konselor sebagai berikut:
1)
Memiliki
bakat skolastik yang memadai untuk mengikuti pendidikan tingkat sarjana atau
yang lebih tinggi.
2)
Memiliki
bakat dan kemauan yang besar untuk bekerja sama dengan orang lain.
3)
Memiliki
kemampuan untuk bekerja dengan orang-orang dari berbagai latar belakang.
4)
Memiliki
kematangan pribadi dan sosial, meliputi kepekaan terhadap orang lain,
kebijaksanan, keajegan, rasa homor, bebas dari kecenderungan suka menyendiri,
mampu mengambil pelajaran dari kesalahan-kesalahan, dan mampu menerima kritik,
berpenampilan menyenangkan, sehat, suara menyenangkan, memiliki daya tarik, dan
bebas dari tingkah laku yang tidak menyenangkan.
Dalam kaitanya
dengan peran konselor untuk membantu membangun generasi muda, Goldman(1969)
menambahkan bahwa calon-calon konselor yang di perlakukan ialah orang-orang
yang memiliki:
1)
Pemahaman
yang mendalam tentang pemuda
2)
Daya
rangsang untuk mengadakan perubahan, dan
3)
Sifat-sifat
pribadi yang disukai oleh pemuda, seperti berpikir krisis imajinatif, berani
dan bertanggung jawab.
b.
Pendidikan
konselor
Agar dapat
melaksanakan tugas-tugas dalam bidang bimbingan dan konseling, yaitu untuk
kerja konselor secara baik, para konselor dituntut untuk memiliki
pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang memadai.
Materi
kurikulum program studi meliputi:
1)
Materi
inti
2)
Studi
lingkungan dan studi khususnya
3)
Pengalaman
tersurpervisi
c.
Akreditasi
Lembaga
pendidikan konselor perlu diakreditasi untuk menjamin mutu lulusannya.
Akreditasi merupakan prosedur yang secara resmi diakui bagi suatu profesi untuk
mempengaruhi jenis dan mutu anggota profesi yang dimaksud.
Akreditasi
dikenakan terhadap lembaga pendidikan, baik milik pemerintah maupun swasta.
Penyelenggara akreditasi ialah pemerintah dengan bantuan organisasi profesi
bimbingan dan konseling.
Tujuan
pokok akreditasi adalah untuk memantapkan kredibilitas profesi. Tujuan tersebut
dirumuskan sebagai berikut:
-
Untuk
menilai bahwa program yang ada memenuhi standar yang ditetapkan oleh profesi
-
Untuk
menegaskan misi dan tujuan program.
-
Untuk
menarik calon konselor dan tenaga pengajar yang bermutu tinggi.
-
Untuk
meningkatkan kemampuan program dan pengakuan terhadap program tersebut.
-
Untuk
meningkatkan program dari penampilan dan penutupan.
-
Untuk
membantu mahasiswa yang berpotensi dalam seleksi memakai program pendidikan
konselor
-
Membantu
para pemakai lulusan untuk mengetahui program mana yang telah standar.
-
Untuk
mendapatkan kepercayaan dari masyarakat tentang kemantapan pelayanan bimbingan
dan konseling.
d.
Sertifikasi
dan Lisensi
Sertifikasi
merupakan upaya lebih lanjut untuk lebih memantapkan dan menjamin
profesionalisasi bimbingan dan konseling.
Lulusan
pendidikan konselor yang akan bekerja di lembaga lembaga pemerintah memang
diharuskan menempuh program sertifikasi yang diselenggarakan oleh pemerintah.
Mereka yang
hendak bekerja diluar lembaga atau badan pemerintah
diwajibkan memperoleh lisensi atau sertifikat kredensial dari organisasi
profesi bimbingan dan konseling.
e.
Pengembangan
Organisasi Profesi
Organisasi
profesi tidak berorientasi pada keuntungan ekonomi ataupun keuntungan yang
bersifat material lainnya.
Tujuan
organisasi profesi dapat dirumuskan, yaitu :
1)
Pengembangan
ilmu
2)
Pengembangan
pelayanan
3)
Penegakan
kode etik profesional
Ketiga tujuan
organisasi profesi itu saling bersangkutan. Peningkatan keilmuan jelas
menunjang praktek di lapangan dan pengalaman praktek di lapangan dianalisis dan
disusun menjadi unsur-unsur keilmuan yang secara terus-menerus menambah
khasanah keilmuan.
Dengan
demikian, organisasi profesi yang benar-benar mantap secara serempak
menyelenggarakan dengan baik ketiga darmanya itu.
C.
Perkembangan
Gerakan Bimbingan dan Konseling di Indonesia
Sejalan dengan
pertumbuhan dan perkembangan sistem pendidikan di Indonesia semakin dirasakan
pula kebutuhan akan adanya pelayanan khusus bimbingan dan
konseling, baik di sekolah maupun di luar sekolah. Anak-anak yang masuk sekolah
tidak lagi terbatas pada hanya anak-anak yang bersifat dari golongan masyarakat
tertentu saja. Oleh karena itu mereka memiliki kesempatan yang sama untuk
mendapat pendidikan tanpa pendidikan tanpa memandang latar belakang (orang tua,
ekonomi, kemampuan, dan sebagainya). Pelajaran klasikal saja tidak mungkin
dapat melayani kebutuhan semua anak yang beraneka ragam itu. Untuk itu
diperlukaan adanya pelayanan khusus yang disebut bimbingan dan konseling.
a.
Cikal
Bakal Perkembangan Bimbingan Konseling
Cikal bakal
profesi konseling dari segi penanganan terhadap masalah-masalah pendidikan dan
vokasional diungkapkan dalam berbagai literatur, bahwa secara kelembagaan
konseling mulai ada pada 1896, yaitu sejak Lightner Witmer membentuk suatu
klinik yang disebutnya sebagai Psikological Counseling Clinic di University of
Pennsylvania.
Secara teoritik
perkembangan konseling sejalan dengan perkembangan psikologi dan psikiatri
secara umum. Teori-teori psikologi dan psikiatri memberi sumbangan yang sangat
berarti bagi perkembangan konseling. Sismund Freud (1856-1939) peletak dasar
psikoanalisis dan memberikan sumbangan bagi pemikiran psikologi konseling bawah
sadar.
Perkembangan
profesi konseling tidak dapat dipisahkan dengan perkembangan psikologi dan
kesehatan. Kemajuan kedua bidang keilmuan ini mendorong bagi munculnya
cara-cara inovatif dalam menangani masalah-masalah personal.
b.
Pendorong
Perkembangan Konseling
Faktor-faktor
yang membantu perkembangan awal konseling diklasifikasikan menjadi dua jenis,
yaitu :
1)
Perkembangan
Kesehatan Mental dan Psikologi
2)
Perkembangan
Sosial
c.
Sejarah
Perkembangan Bimbingan dan Konseling di Indonesia
Selama
perkembangannya sejak awal sampai dewasa ini terdapat beberapa peristiwa
penting yang menjadi tonggak-tonggak sejarah perkembangan bimbingan dan
konseling di Indonesia, yaitu:
1)
Tahun
1971
Berdirinya
proyek perintis sekolah pembangunan (PPSP) pada delapan IKIP.
2)
Tahun
1975
Lahir
dan berlakunya kurikulum sekolah menengah umum yang disebut Kurikulum SMA 1975
sebagai penggantian kurikulum sebelumnya (kurikulum 1968).
3)
Tahun
1975
Diadakan
Konvensi Nasional Bimbingan I di Malang. Konvensi ini berhasil menelusur
beberapa keputusan penting, yaitu:
-
Terbukanya
organisasi profesi ikatan Petugas Bimbingan Indonesia (IPBI)
-
Tersusunnya
AD/ART IPBI, kode etik jabatan konsoler, dan program kerja IPBI periode
1976-1978.
4)
Tahun
1978
Diselenggarakan
program PGSLP dan PGSLA bimbingan dan penyuluhan sebagai suatu upaya
pengangkatan tamatan jurusan BP yang telah dihasilkan oleh IKIP.
5)
Tahun
1989
Akhirnya
surat Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara No.026/Menpan/1989
tentang Angka Kredit bagi Jabatan Guru dalam lingkungan Departemen Pendidikan
dan Kebudayaan.
6)
Tahun
1989
Lahirnya
Undang-Undang Republik Indonesia No. 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan
Nasional.
7)
Tahun
1991 s.d 1993:
(1)
Dibentuk
divisi-divisi dalam IPBI, yaitu:
-
Ikatan
Pendidikan Konselor Indonesia (IPKON)
-
Ikatan
Guru Pembimbingan Indonesia(IGPI)
-
Ikatan
Sejarah Konseling Indonesia (ISKIN)
(2)
Diperjuangkan
oleh IPBI jabatan fungsional tersendiri bagi petugas bimbingan di sekolah.
Program
akreditasi, sertifikasi dan lisensi merupakan upaya agar pelayanan bimbingan
dan konseling itu benar-benar profesional, sejak dari pendidikan konselornya
sampai kepada penempatannya di lapangan kerja baik di lembaga-lembaga
pemerintah maupun non-pemerintah.
Gerakan
bimbingan di Indonesia mulai dengan memasukkan upaya “bimbingan dan konseling”
ke dunia persekolahan. Gerakan ini terus berkembang dan makin menguat
keberadaannya di sekolah. Bahkan sekarang sedang diperjuangkan ditetapkan
jabatan fungsional tersendiri bagi petugas bimbingan sekolah.
BAB III
PENUTUP
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Dengan ada
pembahasan tentang Bimbingan dan Konseling sebagai profesi, maka kita dapat
menyimpulkan bahwa setiap guru harus memahami dan mengetahui bahwa bimbingan
dan konseling itu sangat penting dalam membantu siswa di sekolah, membantu
memecahkan masalah-masalah dari seorang anak.
Bimbingan dan
konseling sebagai profesi itu sendiri merupakan suatu hubungan yang saling
berkaitan untuk membimbing dan membantu orang lain agar menjadi pribadi yang
lebih baik untuk memahami dirinya yang dilakukan oleh seseorang dalam suatu
pekerjaan (profesi).
Jadi, guru
memang harus benar-benar memahami hal tersebut.
B.
Kritik
dan Saran
Dalam penulisan
Makalah ini merupakan karya penulis, sehingga masih belum begitu sempurna.
Apabila ada kritik maupun saran yang bersifat membangun maka penulis dengan
senang hati akan menerimanya. Untuk lebih menyempurnakan pada Penulisan Makalah
yang akan dibuat oleh penulis dikemudian waktu dan di kemudian hari.
Kepada pembaca,
khususnya guru diharapkan agar dapat dan mampu memahami layanan bimbingan dan
konseling agar mampu memanfaatkannya di sekolah dan menerapkannya.
DAFTAR PUSTAKA
Drs. Kosasi
Raflis, M.Sc.dkk.2004. Profesi Keguruan. Jakarta : Rineka Cipta
Hamalik, Oemar.
2002. Pendidikan Guru Berdasarkan Pendekatan Kompetensi. Jakarta: Bumi Aksara.
Latipun. 2008.
Psikologi konseling. Malang : UMM Press.
Prayitno dan
Erman Amti. Dasar-Dasar bimbingan dan Konseling. Jakarta : Rineka Cipta.
Ichan
Usil.2012. Bimbingan dan Konseling sebagai Profesi. http://ichanmonolog27.blogspot.com/2012/06/bimbingan-dan-konseling-sebagai-profesi.html. diakses pada hari Rabu, 08 Januari 2014 pukul 20.00 WIB.
sangat membantu,, trims!
ReplyDelete