BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Hakekat dari belajar adalah perubahan tingkah laku
seseorang baik afektif, kognitif maupun psikomotorik. Perubahan ini akan
terjadi melalui berbagai proses secara kontinyyu, yang menjadi permasalahan
bagaimana strategi pembelajaran afektif itu dapat diarahkan guna mencapai
tujuan pendidikan, karena pembelajaran afektif berhubungan sekali dengan valve
(Nilai) yang sulit di ukur, karena menyangkut kesadaran seseorang yang tumbuh
dari dalam, berada dalam fikiran seseorang, yang sifatnya tersembunyi. Nilai
berhubungan dengan pandangan seseorang tentang baik dan buruk, layak dan tidak
layak, indah dan tidak indah. Pandangan tentang semua itu hanya dapat diketahui
dengan melihat sikap dan perilaku seseorang.
B. Pembatasan-pembatasan
dan Perumusan Masalah
1.
Apakah strategi pembelajaran-pembelajaran afektif
itu?
2.
Apakah ada hubungan antara pembelajaran afektif,
kognitif dan psikomotorik?
3.
Apa kegunaan mempelajari strategi
pembelajaran-pembelajaran Afektif?
C. Tujuan
dan Kegunaan
1.
Untuk mengetahui
pengertian dari strategi pembelajaran-pembelajaran efektif.
2.
Untuk mengetahui
Hakikat pendidikan, nilai dan sikap.
3.
Agar mengetahui proses
pembentukan sikap.
4.
Agar mengetahui model
strategi pembelajaran sikap.
5.
Agar dapat
menerapkannya dalam proses pendidikan.
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
PANDANGAN PARA AHLI
MENGENAI PEMBELAJARAN AFEKTIF
a.
Menurut Mc Paul. Dia
menganggap pembentukan moral tidak sama dengan pengembangan kognitif yang
rasional, pembelajaran moral siswa adalah pembentukan keperibadian, bukan
pengembangan intelektual.
b.
Menurut Kohlberg moral
manusia berkembang melalui tiga tingkat, dan setiap tingkat terdiri dari 2
(dua) tahap.
c.
Menurut John Dewey dan
Jean Pinget, berpendapat bahwa perkembangan manusia terjadi sebagai proses
Restrukturisasi kognitif yang berlangsung serta berangsur-angsur menurut aturan
tertentu.
d.
Menurut Dooglas Graham
(Golu). Nilai tidak bisa diajarkan tetapi diketahui dari penampilannya.
Pengembangan
dominant efektif pada nilai tidak bisa dipisahkan dari aspek kognitif dan
psikomotorik, masalah nilai adalah masalah emosional dank arena itu dapat
berubah, berkembang, sehingga bisa dibina, perkembangan nilai-nilai atau moral
tidak akan terjadi sekaligus, tetapi melalui tahap-tahap.
B.
STRATEGI
PEMBELAJARAN-PEMBELAJARAN AFEKTIF
1. Pengertian
Strategi Pembelajaran Afektif
Strategi
pembelajaran afektif adalah strategi yang bukan hanya bertujuan untuk mencapai
pendidikan kognitif saja, akan tetai juga bertujuan untuk mencapai dimensi
lainya. Yaitu sikap dan keterampilan afektif berhubungan dengan volume yang
sulit di ukur karena menyangkut kesadaran seseorang yang tumbuh dari dalam,
afeksi juga dapat muncul dalam kejadian behavioral yang diakibatkan dari proses
pembelajaran yang dilakukan oleh guru.
2. Hakikat
Pendidikan Nilai dan Sikap
Sikap
(afektif) erat kaitanya dengan nilai yang dimiliki oleh seseorang, sikap
merupakan refleksi dari nilai yang dimiliki, oleh karenanya pendidikan sikap
pada dasarnya adalah pendidikan nilai. Nilai, adalah suatu konsep yang berada
dalam pikiran manusia yang sifat-sifatnya tersembunyi, tidak berada dalam dunia
yang empiris. Nilai berhubungan dengan pandangan seseorang tentang baik dan
buruk, layak dan tidak layak, pandangan seseorang tentang semua itu, nilai pada
dasarnya adalah setandar perilaku seseorang. Dengan demikian, pendidikan nilai
pada dasarnya proses penanaman perilaku kepada peserta didik yang diharapkan
kepada siswa dapat berperilaku sesuai dengan pandangan yang dianggap baik dan
tidak bertentangan dengan norma-norma yang berlaku.
Ø Normativist
: Kepatuhan yang terdapat pada norma-norma hukum.
Ø Integralist
: Kepatuhan yang didasarkan pada kesadaran dan pertimbangan-pertimbangan yang
rasional.
Ø Fenomalist
: Kepatuhan berdasarkan suara hati atau sekedar basa-basi.
Ø Hedonist
: Kepatuhan berdasarkan diri sendiri.
Nilai
bagi seseorang tidaklah statis akan tetapi selalu berubah, setiap orang akan
selalu menganggap sesuatu itu baik sesuai dengan pandangannya pada saat itu.
Oleh sebab itu, sisytem nilai yang dimiliki seseorang bisa di bina dan di
arahkan. Komitmen seseorang terhadap suatu nilai tertentu terjadi melalui
pembentukan sikap, yakni kecenderungan seseorang terhadap suatu objek, misalnya
jika seseorang berhadapan dengan sesuatu objek, dia akan menunjukan gejala senang
atau tidak senang, suka atau tidak suka. Goul (2005) menyimpulkan tentang nilai
tersebut :
Nilai
tidak bisa diajarkan tetapi diketahui dari penampilannya.
Pengembangan
dominant efektif pada nilai tidak bisa dipisahkan dari aspek kognitif dan
psikomotorik. Maslah nilai adalah masalah emosional dan karena itu dapat
berubah, berkembang, sehingga bisa dibina.
Perkembangan nilai atau
moral tidak akan terjadi sekaligus, tetapi melalui tahap tertentu.
Sikap
adalah kecenderungan seseorang untuk menerima atau menolak suatu objek
berdasarkan nilai yang di anggap baik atau tidak baik. Dengan demikian,
berlajar sikap berarti memperoleh kecenderungan untuk menerima atau menolak
suatu objek penilaian terhadap objek itu sebagai hal yang berguna atau berharga
(sikap positif) dan tidak berguna atau berharga (sikap negatife).
3. Proses
Pembentukan Sikap
Pola pembiasaan
Dalam
proses pembelajaran di sekolah, baik secara di sadari maupun tidak, guru dapat
menanamkan sikap tertentu kepada siswa melalui proses pembiasaan, misalnya
sikap siswa yang setiap kali menerima perilaku yang tidak menyenangkan dari
guru, satu contoh mengejek atau menyinggung perasaan anak. Maka lama kelamaan akan
timbul perasaan benci dari anak yang pada akhirnya dia juga akan membenci pada
guru dan mata pelajarannya.
Modeling.
Pembelajaran
sikap dapat juga dilakukan melalui proses modeling yaitu pembentukan sikap
melalui proses asimilasi atau proses pencontoaan. Salah satu karakteristik anak
didik yang sedang berkembang adalah keinginan untuk melakukan peniruan
(imitasi). Hal yang di tiru itu adalah perilaku-perilaku yang di peragakan atau
di demontrasikan oleh orang yang menjadi idman. Modering adalah proses peniruan
anak terhadap orang lain yang menjadi idolanya atau orang yang di hormatinya.
Pemodelan biasanya di nilai dari perasaan kagum.
4. Model
Strategi Pembelajaran Sikap
Setiap
strategi pembelajaran sikap pada umumnya menghadapkan siswa pada situasi yang
mengandung konflik atau situasi problematic, melalui situasi ini diharapkan
siswa dapat mengambil keputusan berdasarkan nilai yang di anggapnya baik.
a. Model
Konsiderasi
Model
konsiderasi di kembangkan oleh Mc Paul, seorang humanis, paul menganggap bahwa
pembentukan moral tidak sama dengan pengembangan kognitif yang rasional.
Menurutnya pembentukan atau pembelajaran moral siswa adalah pembentukan
kepribadian bukan pengembangan intelektual. Oleh sebab itu, model ini
menekankan kepada strategi pembelajaran yang dapat membentuk keperibadian,
tujuannya adalah agar siswa menjadi manusia yang memiliki keperibadian terhadap
orang lain.
b. Model
Pengembangan Kognitif
Model ini banyak
diilhami oleh pemikiran John dewey dan Jean Piage yang berpendapat bahwa
perkembangan manusia menjadi sebagai proses darirestrukturisasi kognitif yang
berlangsung serta berangsur-angsur menurut aturan tertentu.
c. Tehnik
Mengklarifikasikan Nilai
Tehnik volume
clarification technic Que atau VCT dapat di tarik sebagai tehnik pengajaran
untuk membentuk siswa dalam menerima dan menentukan suatu nilai yang di
anggapnya baik dalam menghadapi suatu persoalan melalui proses menganalisis
nilai yang sudah ada dan tertanam dalam diri siswa. VCT menekankan bagaimana
sebenarnya seseorang membangun nilai menurut anggapanya baik, yang pada
akhirnya nilai-nilai tersebut akan mewarnai perilaku dalam kehidupan
sehari-hari di masyarakat.
Kesulitan
Dalam Pembelajaran Afektif.
Kesulitan
dalam pembelajaran afektif ini dikarnakan : Sulit melakukan control karma
banyak faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan sikap seseorang.
Pengembangan kemampuan sikap baik melalui proses pembiasaan maupun modeling
bukan hanya di temukan oleh faktor guru, akan tetapi faktor lain terutama
faktor lingkungan.
Keberhasilan
pembentukan sikap tidak bisa di evaluasi dengan segera. Berbeda dengan aspek
kognitif dan aspek keterampilan yang hasilnya dapat diketahui setelah proses
pembelajaran berakhir, keberhasilan dari pembentukan sikap dapat dilihat pada
rentang waktu yang cukup pnjang. Hal ini disebabkan sikap berhubungan dengan
internalisasi nilai yang memerlukan proses lama.
Pengaruh
kemajuan teknologi, berdampak pada pembentukan karakter anak, tidak bisa
dipungkiri program-program TV yang menayangkan acara produksi luar negri yang
memiliki latar belakang budaya yang berbeda, maka dari itu perlahan tapi pasti
budaya asing yang belum cocok dengan budaya lokal menerobos dalam setiap ruang
kehidupan.
5. Afektif
Sebuah Strategi Pembelajaran Terapan
Pembelajaran
Afektif banyak yang beranggapan bukan untuk diajarkan, seperti pelajaran
biologi, fisika ataupun matematika. Pembelajaran afektif merupakan pembelajaran
bagaimana sikap itu terbentuk setelah siswa atau manusia itu memperoleh
pembelajaran. Oleh karena itu yang pas untuk afektif bukanlah pengajaran,
melainkan pendidikan. Strategi pembelajaran yang akan kita bahas ini diarahkan
untuk mencapai tujuan pendidikan yang bukan hanya dimensi kognitif tetapi juga
menyangkut dimensi lainnya yakni sikap dan keterampilan, melalui proses
pembelajaran yang menekankan kepada aktifitas siswa sebagai subjek belajar.
Afektif berhubungan sekali dengan nilai (value), yang sulit diukur karena
menyangkut kesadaran seseorang yang tumbuh dari dalam. Dalam batas tertentu,
memang Afektif dapat muncul dalam kejadian berhavioral, akan tetapi
penilaiannya untuk sampai pada kesimpulan yang dapat dipertanggungjawabkan
membutuhkan ketelitian dan observasi yang terus menerus, dan hal ini tidaklah
mudah untuk dilakukan, apalagi menilai perubahan sikap sebagai akibat dari
proses pembelajaran yang dilakukan guru disekolah. Kita tidak serta merta
menilai sikap anak itu baik. Sebagai contoh melihat kebiasaan berbahasa atau
sopan santun yang bersangkutan, sebagai akibat dari proses pembelajaran yang
dilaksanakan oleh guru. Mungkin sikap itu terbentuk oleh kebiasaan dalam
keluarga dan lingkungan sekitar.
Nilai
adalah suatu konsep yang berada dalam pikiran manusia yang sifatnya
tersembunyi, tidak berada di dalam dunia yang empiris. Nilai berhubungan dengan
pandangan seseorang tentang baik dan buruk, layak dan tidak layak indah dan
tidak indah dan sebagainya. Pandangan seseorang tentang semua itu tidak bisa
diraba, kita hanya mungkin dapat mengetahuinya dari perilaku yang bersangkutan.
Oleh karena itu, nilai pada dasarnya standar perilaku, ukuran yang menentukan
atau kriteria seseorang mengenai baik dan buruk, layak dan tidak layak dan
sebagainya. Dengan demikian, pendidikan nilai pada dasarnya merupakan proses
penanaman niali kepada peserta didik yang diharapkan oleh karenanya siswa dapat
berprilaku sesuai dengan pandangan yang dianggapnya baik dan tidak bertentangan
dengan norma-norma yang berlaku.
Ada
empat faktor yang merupakan dasar kepatuhan seseorang terhadap niali tertentu
yang dikemukakan oleh Douglas Graham (Gulo, 2002) yaitu :
1.
Normativist
Biasanya kepatuhan pada norma-norma hukum, kepatuhan
pada nilai atau norma itu sendiri ; kepatuhan pada proses tanpa memperdulikan
normanya sendiri; kepatuhan pada haslinya atau tujuan yang diharapkan dari
peraturan itu.
2. Integralist
Yaitu kepatuhan yang didasarkan pada kesadaran
dengan pertimbangan-pertimbangan yang rasional
3.
Fenomenalist
Yaitu kepatuhan berdasarkan suara hati atau sekedar
basa-basi.
4. Hedonist
Yaitu kepatuhan berdasarkan kepentingan diri
sendiri.
Faktor
Normativist adalah faktor yang kita harapkan menjadi dasar kepatuhan setiap
individual, karena kepatuhan semacam inilah adalah kepatuhan yang didasari
kesadaran akan nilai tanpa memperdulikan apakah perilaku itu menguntungkan
untuk dirinya atau tidak.
Dari empat faktor diatas terdapat
lima tipe kepatuhan, yakni :
a.
Otoritarian
Yaitu suatu
kepatuhan tanpa reserve atau kepatuhan yang ikut-ikutan.
b.
Conformist
Kepatuhan
ini mempunyi tiga bentuk, antara lain : Conformist directed, yaitu penyesuaian
diri terhadap masyarakat atau orang lain, conformist hedonist yaitu kepatuhan
yang berorientasi pada “untung-rugi” dan conformist integral yaitu kepatuhan
yang menyesuaikan kepentingan diri sendiri dengan kepentingan masyarakat.
c.
Compulsive : Yaitu
kepatuhan yang tidak konsisten
d.
Hedonik Psikopatik
Yaitu
kepatuhan pada kekayaan tanpa memperhitungkan kepentingan orang lain.
e.
Supramoralist
Yaitu kepatuhan karena
keyakinan yang tinggi terhadap nilai-nilai moral.
Pada era teknologi informasi yang
berkembang secara pesat ini, pendidikan nilai sangatlah penting untuk
diterapkan sebagai filter terhadap perilaku yang negatif. Nilai pada seseorang tidaklah
statis, akan tetapi selalu berubah. Setiap orang akan menganggap sesuatu itu
baik sesuai dengan pandangannya pada saat itu. Oleh sebab itu, sistem nilai
yang dimiliki seseorang itu bisa dibina dan diarahkan. Apabila seseorang
menganggap nilai agama adalah diatas segalanya, maka nilai-nilai yang lain akan
bergantung pada nilai agama itu. Dengan demikian sikap seorang sangat
tergantung pada sistem nilai yang dianggapnya paling benar dan kemudian sikap
itu yang akan mengendalikan perilaku orang tersebut.
Gulo
(2005) menyimpulkan tentang nilai sebagai berikut :
1.
Nilai tidak bisa
diajarkan tetapi diketahui dari penampilannya.
2.
Pengembangan domain
afektif pada nilai tidak bisa dipisahkan dari aspek kognitif dan psikomotorik
3.
Masalah ini adalah
masalah emosional dan karena itu dapat berubah, berkembang sehingga bisa di
bina.
4.
Perkembangan nilai atau
moral tidak terjadi sekaligus, tetapi melalui tahap tertentu
Sikap adalah kecenderungan seseerang untuk menerima
atau menolak suatu objek berdasarkan nilai yang dianggapnya baik atau tidak
baik. Dengan demikian, belajar sikap berarti memperoleh kecenderungan untuk
menerima atau menolak suatu objek; berdasarkan penilaian terhadap objek itu
sebagai hal yang berguna/berharga (sikap positif) dan tidak berhrga/tidak
berguna (sikap negatif). Sikap merupakan suatu kemampuan internal yang
berperanan sekali dlam mengambil tindakan (action), lebih-lebih apabila terbuka
berbagai kemungkinan untuk bertindak atau tersedia beberapa alternative (winkel
: 2004).
Apakah
sikap dapat dibentuk ?
Dalam
proses pembelajaran disekolah, baik secara disadari maupun tidak, guru dapat
menanamkan sikap tertentu kepada siswa melalui proses pembiasaan. Belajar
membentuk sikap melalui pembiasaan itu juga dilakukan oleh skinner melalui
teorinya operant conditioaning. Proses pembentukan sikap yang dilakukan Skinner
menekankan pada proses peneguhan respons anak. Setiap kalianak menunjukkan
prestasi yang baik diberikan penguatan (reinforcement) dengan cara memberikan
hadiah atau perilaku yang menyenangkan. Lama kelamaan, anak berusaha
meningkatkan sikap positifnya.
Pembelajaran
sikap seseorang dapat juga dilakukan melalui proses modeling, yaitu pembentukan
sikap melalui proses asimilasi tau proses mencontoh. Salah satu karakteristik
anak didik yang sedang berkembang adalah keinginannya untuk melakukan peniruan.
Prinsip peniruan ini dimaksud dengan modeling. Modeling adalah proses peniruan
anak terhadap orang lain yang menjadi idolanya atau orang yang dihormatinya.
Proses
penanaman sikap anak terhadap sesuatu objek melalui proses modeling pada
awalnya dilakukan secara mencontoh, namun anak perlu diberi pengarahan dan
pemahaman mengapa hal itu dilakukan. Hal ini diperlukan agar sikap tertentu
yang muncul benar-benar disadari oleh suatu keyakinan kebenaran sebagai suatu
sistem nilai.
Model-model
strategi pembelajaran sikap antara lain :
1.
Model konsiderasi
Model
konsiderasi (the consideration model) dikembangkan oleh Mc. Paul (seorang
humanis). Dia menganggap bahwa pembentukan moral tidak sama dengan perkembangan
kognitif yang rasional. Menurut dia, pembelajaran moral siswa adalah
pembentukan kepribadian bukan pengembangan intelektual. Model ini menekankan
kepada strategi pembelajaran yang dapat membentuk kepribadian dengan tujuan
agar siswa menjadi manusia yang memiliki kepedulian terhadap orang lain.
Pembelajaran sikap pada dasarnya adalah membantu anak agar dapat mengembangkan
kemampuan untuk bisa hidup bersama secara harmonis, peduli dan merasakan apa
yang dirasakan orang lain. Implementasi dari model ini, guru dapat mengikuti
tahapan dibawah ini :
a.
Menghadapkan siswa pada suatu maslah yang mengandung
konflik, yang sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Ciptakan suasana
“seandainya siswa tersebut ada dalam masalah itu”.
b.
Menyuruh siswa untuk menganalisis situasi masalah
dengan melihat bukan hanya yang tampak, tetapi juga yang tersirat dalam
permasalah tersebut, misalnya perasaan, kebutuhan dan kepentingan orang lain.
c.
Menyuruh siswa untuk menuliskan tanggapannya
terhadap permasalahan yang dihadapi. Hal ini dimaksudkan agar siswa dapat
menelaah perasaanya sendiri sebelum ia mendengar respons orang lain untuk
dibandingkan.
d.
Mengajak siswa untuk menganalisis respons orang lain
serta membuat kategori dari setiap respons yang diberikan siswa.
e.
Mendorong siswa untuk merumuskan akibat atau
konsekuensi dari setiap tindakan yang diusulkan siswa. Siswa diajak berfikir
keras dan harus dapat menjelaskan argumennya secara terbuka serta dapat saling
menghargai pendapat orang lain.
f.
Mengajak siswa untuk memandang permasalahan dari
berbagai sudut pandang untuk menambah wawasan agar mereka dapat menimbang sikap
tertentu sesuai dengan nilai yang dimilikinya.
g.
Mendorong siswa agar merumuskan sendiri tindakan
yang harus dilakukan sesuai dengan pilihannya berdasarkan pertimbangannya
sendiri. Guru hendaknya tidak menilai benar atau salah atas pilihan siswa. Yang
diperlukan adalah guru dapat membimbing mereka menentukan pilihan yang lebih
matang sesuai dengan pertimbangan sendiri.
2.
Model Pengembangan kognitif
Model
pengembangan kognitif (the cognitive development model) dikembangkan oleh
Lawrence Kholberg. Model ini hanya diilhami oleh pemikiran John Dewey dan Jean
Piaget yang berpendapat bahwa perkembangan manusia terjadi sebagai proses dari
restrukturisasi kognitif yang berlangsung secara berangsur-angsur menurut
urutan tertentu. Menurut Kohlberg, moral manusia itu berkembang melalui 3
tingkat, dan setiap tingkat terdiri dari 2 tahap. Tingakat-tingkat tersebut
antara lain :
a.
Tingkat Prakonvensional
Pada tingkat ini setiap individu memandang moral berdasarkan
kepentingannya sendiri. Artinya, pertimbangan moral didasarkan pada pandangannya
secara individual tanpa menghiraukan rumusan dan aturan yang dibuat oleh
masyarakat. Pada tingkat ini dibagi dua tahap yaitu tahap orientasi hukuman dan
kepatuhan, perilaku anak didasarkan kepada konsekuensi fisik yang akan terjadi.
Anak hanya berfikir bahwa perilaku yang benar adalah perilaku yang tidak akan
mengakibatkan hukuman. Jadi peraturan harus dipatuhui agar tidak timbul
konsekuensi negatif : Tahap orientasi instrumental-relatif, perilaku anak
didasarkan kepada rasa “adil” berdasarkan aturan permainan yang telah
disepakati. Dikatakan adil manakala orang membalas perilaku kita yang dianggap
baik, dengan demikian perilaku itu didasarkan kepada saling menolong dan saling
meberi.
b.
Tingkat Konvensional
Dalam
tahap ini anak mendekati masalah didasarkan pada hubungan individu masyarakat.
Pemecahan masalah bukan hanya didasarkan pada rasa keadilan belaka, akan tetapi
apakah permasalahan itu sesuai dengan norma masyarakat atau tidak.
BAB IV
PENUTUP
A.
Simpulan
Banyak yang beranggapan
bahwa pembelajaran afektif bukan untuk diajarkan, seperti pelajaran Biologi,
Fisika ataupun Matematika. Pembelajaran afektif merupakan pembelajaran
bagaimana sikap itu terbentuk setelah siswa memperoleh pembelajaran, oleh karena
itu yang pas untuk afektif bukanlah pengajaran melainkan pendidikan. Afektif
berhubungan sekali dengan nilai (Value) yang sulit diukur karena menyangkut
kesadaran seseorang yang tumbuh dari dalam. Dalam batas tertentu afektif dapat
muncul dalam kejadian Behavioral, akan tetapi penilaian untuk sampai pada
kesimpulan yang dapat di pertanggungjawabkan membutuhkan ktelitian dan
observasi yang terus menerus dan hal ini tidak mudah dilakukan, dalam proses
pembelajaran di sekolah, baik secara disadari maupun tidak guru dapat
menanamkan sikap tertentu kepada siswa melalui proses pembiasaan.
Yang termasuk kemampuan
afektif adalah sebagai berikut :
a.
Menerima (Receiving) yaitu : kesediaan untuk
memperhatikan.
b.
Menanggapi (Responding), yaitu afektif
berpartisipasi.
c.
Menghargai (Valuing), yaitu penghargaan kepada
benda, gejala, perbuatan tertentu.
d.
Membentuk (Organization), yaitu : memadukan nilai
yang berbeda.
e.
Berpribadi (Characterization by Value of value
complex), yaitu : Mempunyai sistem nilai yang mengendalikan perbuatan untuk
menumbuhkan gaya hidup yang mantap.
B.
Saran
Akhirnya makalah yang
bertema strategi pembelajran-pembelajaran afektif dapat kami selesaikan. Dengan
keterbatasan referensi dan kurangnya pengetahuan yang kami miliki mengenai
strategi pembelajaran afektif ini, untuk itu saran yang membangun sangat kami harapkan
untuk perbaikan makalah ini.
DAFTAR PUSTAKA
Sanjaya Wina. Strategi
Pembelajaran Berorientasi Standar Pendidikan. Kencana. Jakarta : 2008
Raka, Joni. Strategi
Belajar Mengajar, P3G, Jakarta : 1980
http://moegrafis.blogspot.com/2011/05/strategi-pembelajaran-afektif.html
No comments:
Post a Comment