BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Dalam
sejarah perkembangan ilmu, peran filsafat ilmu dalam struktur bangunan keilmuan
tidak bisa disangsikan. Sebagai landasan filosofis bagi tegaknya suatu ilmu,
mustahil para ilmuwan menafikkan peran filsafat ilmu dalam setiap kegiatan
keilmuan.
Dalam perkembangan sains, tokoh-tokoh filsafat tidak hanya berasal dari dunia barat, tetapi di dunia timur sendiri juga terdapat pemikir-pemikir yang tidak kalah termasyhurnya dengan para pemikir barat. Khususnya dalam Islam, para filsuf seperti Ibnu Sina, Ahmad Ghazali, Ibnu Rusyd, Abed Al-Jabiri, dll merupakan para cendekiawan muslim yang sangat berjasa dalam mengembangkan ilmu baik dalam ilmu Fiqh, kedokteran, matematika, dan lain sebagainya.
Dalam perkembangan sains, tokoh-tokoh filsafat tidak hanya berasal dari dunia barat, tetapi di dunia timur sendiri juga terdapat pemikir-pemikir yang tidak kalah termasyhurnya dengan para pemikir barat. Khususnya dalam Islam, para filsuf seperti Ibnu Sina, Ahmad Ghazali, Ibnu Rusyd, Abed Al-Jabiri, dll merupakan para cendekiawan muslim yang sangat berjasa dalam mengembangkan ilmu baik dalam ilmu Fiqh, kedokteran, matematika, dan lain sebagainya.
Penulis
sangat tertarik untuk mengkaji tentang pemikiran Ibnu Sina karena kepandaiannya
dalam ilmu kedokteran. Selain itu Ibnu Sina (Ibnu Sina) adalah salah satu
filsuf terkemuka di Abad Pertengahan Helenistik tradisi Islam yang teori
filsafat yang komprehensif, rinci dan rasionalistik tentang sifat Allah dan Benda,
di mana ia menemukan sistematis tempat bagi dunia ragawi, semangat, wawasan,
dan berpikir logis varietas termasuk dialektika, retorika dan puisi.
Dari
penjelasan di atas maka penulis ingin mengkaji tentang pemikiran Ibnu Sina yang
mana dari pemikiran-pemikiran beliau diharapkan bermanfaat dan menambah
khasanah ilmu pengetahuan.
B.
Rumusan Masalah
Dari
latar belakang diatas, maka dapat disusun rumusan masalah sebagai berikut :
1.
Siapa Ibnu Sina dan bagaimana riwayat hidup Ibnu Sina?
2.
Apa saja karya-karya yang telah dihasilkan oleh Ibnu Sina?
3.
Bagaimana pemikiran-pemikiran filsafat Ibnu Sina itu?
C.
Tujuan Masalah
Berkaitan
dengan rumusan masalah, maka tujuan penelitian ini adalah :
1.
Untuk mengetahui siapa itu Ibnu Sina dan bagaimana riwayat hidupnya.
2.
Untuk mengetahui apa saja karya-karya yang telah dihasilkan oleh
Ibnu Sina.
3.
Untuk mengetahuibagaimana pemikiran-pemikiran filsafat Ibnu Sina
itu.
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
BIOGRAFI DAN KARYANYA
1.
Biografi
Nama
lengkap Ibnu Sina adalah Abu ‘Ali Al-Husain ibnu ‘Abdullah ibnu Al-Hasan ibnu
Ali ibn Sina. Di Barat popular dengan sebutan Avicenna akibat dari terjadinya
metamorphose Yahudi-Spanyol-Latin. Dengan lidah Spanyol kata ibnu diucapkan
Aben atau Even. Terjadinya perubahan ini berawal dari usaha pertengahan
naskah-naskah Arab ke dalam bahasa Latin pada pertengahan abad kedua belas di
Spanyol.[1]
Ibnu
Sina dilahirkan di desa Afsyanah, dekat Bukhara, Transoxiana (Persia Utara)
pada 370 H (8-980 M). ayahnya berasal dari kota Balakh kemudian pindah ke
Bukhara pada masa raja Nuh ibn Manshur dan diangkat oleh Raja sebagai penguasa
di Kharmaitsan, satu wilayah dari kota Bukhara. Dikota ini ayahnya menikahi
Sattarah dan mendapat tiga orang anak, Ali, Husein (Ibnu Sina), dan Muhammad.[2]
Ibnu
sina sejak usia muda telah menguasai beberapa disiplin ilmu seperti matematika,
logika, fisika, kedokteran, astronomi, hukum dan lain-lainnya, bahkan dalam
usia sepuluh tahun ia telah hafal Al-Qur’an seluruhnya. Ketika ia berumur 17
tahun, ia sudah menguasai ilmu kedokteran, ia diangkat sebagai konsultan
dokter-dokter praktisi. Peristiwa ini terjadi ketika ia berhasil mengobati
Pangeran Nuh ibnu Manshur, yang sebelumnya tidak seorang dokter pun mampu
menyembuhkannnya. Ia juga pernah diangkat menjadi menteri oleh Sultan Syams
Al-Dawlah yang berkuasa di Hamdan.[3]
Diantara
guru yang mendidiknya ialah Abu ‘Abd Allah Al-Natili dan Ismail sang Zahid.
Karena kecerdasan otaknya yang luar bisa, ia dpat menguasai semua ilmu yang
diajarkan kepadanya dengan sempurna, bahkan melebihi sang guru. Ibnu Sina
secara tidak langsung berguru kepada Al-Farabi, bahkan dalam otobiografinya
disebutkan tentang utang budinya kepada Guru Kedua ini. Hal ini terjadi ketika
ia kesulitan untuk memahami Metafisika Aristoteles, sekalipun telah ia baca
sebanyak 40 kali dan hampir hafal diluar kepala. Akhirnya, ia tertolong berkat
bantuan risalah kecil Al-Farabi.[4]
Anekdot ini juga dapat diartikan bahwa Ibnu Sina adalah seorang pewaris
filsafat Neoplatonisme Islam yang dikembangkan Al-Farabi. Dengan istilah lain,
Ibnu Sina adalah pelanjut dan pengembang filsafat Yunani yang sebelumnya telah
dirintis Al-Farabi dan dibukakan pintunya oleh Al-Kindi.[5]
Atas
keberhasilan Ibnu Sina dalam mengembangkan pemikiran filsafat sehingga dapat
dinilai bahwa filsafat ditangannya telah mencapai puncaknya, dan karena prestasinya
itu, ia berhak memperoleh gelar kehormatan dengan sebutan al-Syikh al-Ra’is
(Kiyahi Utama).[6]
Di dunia Barat Ibnu Sina juga dikenal kemasyhurannya sebagai dokter melampaui
kemasyhuran sebagai Filosof, sehingga ia mereka beri gelar “the Prince of the
Physicians”.[7]
Diantara
filsuf Arab yang termasyhur di Barat, termasuk Ibn Sina yang dikenal Avicenna
atau disebur juga Aristoteles Baru. Kebesarannya sebagai tokoh filsafat pada
masanya, terbukti ketika Al-Gazali melancarkan serangan terhadap pemikiran kaum
filusuf, Al-Ghazali tidak menemukan tokoh filsafat dihadapannya sekaliber Ibnu
Sina.[8]
Sebagai
pemikir inovatif dan kreatif pada umumnya, Ibnu Sina tidak terlepas dari cobaan
yang menimpa dirinya. Ketika pustaka istana, Kutub Khana terbakar, ia dituduh
membakarnya supaya orang lain tidak dapat menguasai ilmu yang ada disana.
Cobaan lain, bahwa ia pernah dipenjarakan oleh putera Al-Syams Al-Dawlah di
benteng Fardajan selama empat bulan[9],
hanya semata-mata kedengkian atau ketidaksenangan. Akhirnya ia dapat meloloskan diri dari penjara dan lari
ke Isfahan dan disambut oleh amirnya dengan segala kehormatan. Di kota inilah
ia mengabdikan dirinya sampai akhir hayatnya. [10]
2.
Karyanya
Pada usia 20 tahun ia telah menghasilkan
karya-karya cemerlang, dan tidak heran kalau ia menghasilkan 267 karangan.
Diantara karyanya yang terpenting adalah:
a.
Al-Syifa’, latinnya Sanatio (penyembuhan), ensiklopedi yang terdiri
dari 18 jilid mengenai fisika, matematika, dan metafisika. Kitab ini ditulis
pada waktu menjadi menteri Syams al -Dawlah dan selesai masa ‘Ala’u al Daulah
di Isfahan.
b.
Al-Najah, latinnya Salus (penyelamat), keringkasan dari al-Syifa’.
c.
Al-Isyarah wa al-Tanbihah (isyarat dan peringatan), mengenai
logika dan hikmah.
d.
Al-Qanun fi al-Thibb, ensiklopedi medis dan setelah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin
menjadi buku pedoman pada universitas-universitas di Eropa sampai abad XVII.
e.
Al-Hikmah al-‘Arudhiyyah.
f.
Hidayah al-rais li al-Amir.
g.
Risalah fi al-Kalam ala al-Nafs al-Nathiqiyah
B.
PEMIKIRAN FILSAFAT IBNU SINA
1.
Al-Tawfiq (Rekonsiliasi) antara Agama dan Filsafat.
Sebagaimana
Al-farabi, Ibnu Sina juga mengusahakan pemanduan (rekonsiliasi) anatara
agama dan filsafat. Menurutnya nabi dan filosof menerima kebenaran dari
sumbernya yang sama, yakni malikat Jibril yang juga disebut Akal Kesepuluh atau
Akal Aktif. Perbedaaannya hanya terletak pada cara memeprolehnya, bagi nabi
terjadinya hubungan dengan Malikat Jibril melalui akal materiil yang disebut
hads (kekuatan suci, qudsiyyat), sedangkan filosof melalui Akal
Mustafad. Nabi memperoleh akal materiil yang dayanya jauh lebih kuat daripada
Akal Mustafad sebagai anugerah Tuhan kepada orang pilihan-Nya. Sementara
itu, filosof memperoleh Akal Mustafad yang dayanya jauh lebih rendah
dari pada akal materiil melalui latihan berat. Pengetahuan yang diperoleh nabi
disebut wahyu, berlainan dengan pengetahuan yang diperoleh filosof hanya dalam
bentuk ilham, tetapi antara keduanya tidaklah bertentangan.[12]
Ibnu
Sina, sebagaimana Al-farabi, juga memberikan ketegasan tentang perbedaan antara
para nabi dan para filosof. Mereka yang disebut pertama, menurutnya adalah
manusia pilihan Allah dan tidak ada peluang bagi manusia lain untuk
mengusahakan dirinya jadi nabi. Sementara itu, mereka yang disebut kedua adalah
manusia yang mempunyai intelektual yang tinggi dan tidak bisa menjadi nabi.[13]
Pembagian
manusia yang dimajukan Ibnu Sina menjadi dua tingkatan, awam dan terpelajar,
adalah hal yang biasa. Namun, pendapatnya yang mengatakan bahwa kebenaran dalam
bentuk wahyu ditujukan pada tingkatan awam dan kebenaran dalam bentuk filsafat
ditujukan kepada tingkatan terpelajar agak meragukan, tetapi apabila yang
dimaksudkan kebenaran dalam bentuk wahyu secara eksplisit ditujukan kepada
tingkatan awam, maka dapat diterima. Namun yang jelas, Ibnu Sina dalam
mengharmoniskan antara filsafat dan agama juga menggunakan takwil.[14]
Dalam
pandangan Ibnu Sina para Nabi sangat diperlukan bagi kemaslahatan manusia dan
alam semesta. Hal ini disebabkan para nabi dengan mukjizatnya dapat dibenarkan
dan didikuti manusia. Dengan kata lain, kebenaran yang disampaikan nabi,
seperti adanya hari akhirat dan lain-lain, dapat diterima dan dibenarkan
manusia, baik secara rasional maupun secara syar’i.[15]
2.
Ketuhanan
Ibn
Sina dalam membuktikan adanya Tuhan (isbat wujud Allah) dengan dalil
wajib al-wujud dan mumkin al-wujud mengesankan duplikat Al-farabi. Sepertinya
tidak ada tambahan sama sekali. Akan tetapi, dalam filsafat wujudnya, bahwa
segala yang ada ia bagi pada tiga tingkatan dipandang memilki daya kreasi
terendiri sebagai berikut:[16]
a.
Wajib al-wujud, esensi yang tidak dapat tidak mesti mempunyai wujud. Disini
esensi tidak bisa dipisahkan dari wujud, keduanya adalah sama dan satu. Esensi
ini tidak dimulai dari tidak ada, kemudian berwujud, tetapi ia wajib dan mesti
berwujud selama-lamanya. Lebih jauh lagi, Ibnu Sina membagi wajib al-wujud
kedalam kategori wajib alwujud bi dzatihi dan wajib al-wujud bi
ghairihi. Kategori yang pertama ialah wujudnya dengan sebab zatnya semata,
mustahil jika diandaikan tidak ada. Kategori yang kedua ialah wujudnya yang
terkait dengan sebab adanya sesuatu yang lain di luar zatnya. Dalam hal ini
Allah termasuk pada yang pertama (wajib al-wujud li dzatihi la li syai’in
akhar).
b.
Mumkin al-wujud, esensi yang boleh mempunyai wujud dan boleh pula tidak berwujud.
Dengan istilah lain, jika dia diandaikan tidak ada atau diandaikan ada, maka ia
tidaklah mustahil, yakni boleh ada dan boleh tidak ada. Mumkin al-wujud
ini jika dilihat dari segi esensinya, tidak mesti ada dan tidak mesti tidak ada
karenanya ia disebut dengan mumkin al-wujud bi dzatihi. Ia pun dapat
pula dilihat dari sisi lainnya sehingga disebut mumkin alwujud bi dzatihi
dan wajib al-wujud bi ghairihi. Jenis mumkin mencakup semua yang ada,
selain Allah.
c.
Mumtani’ al-wujud, esensi yang tidak mempunyai wujud, seperti adanya sekarang ini
juga kosmos lain disamping kosmos yang ada.
Ibnu Sina dalam membuktikan adanya
Allah tidak perlu mencari dalil dengan salah satu makhluknya, tetapi cukup
dengan dalil adanya wujud pertama, yakni wajib al-wujud. Jagad raya ini mumkin
al-wujud yang memerlukan sesuatu sebab (‘illat) yang mengeluarkannya
menjadi wujud karena wujudnya tidak dari zatnya sendiri. Tentang sifat-sifat
Allah. Sebagaimana Alfarabi, Ibnu Sina juga menyucikan Allah dari segala sifat
yang dikaitkan dengan esensi-Nya karena Allah Maha Esa dan Maha Sempurna. Ia
adalah Tunggal, tidak terdiri dari bagian-bagian. Jika sifat Allah dipisahkan
dari zat-Nya, tentu akan membawa zat Allah menjadi pluralitas (ta’addud
al-qudama).[17]
3.
Emanasi
Ibnu
Sina, sebagaimana juga Al-Farabi menemui kesulitan dalam menjelaskan bagaimana
terjadinya yang banyak yang bersifat materi (alam) dari Yang Esa, jauh dari
arti banyak, jauh dari materi, Mahasempurna, dan tidak berkehendak apa pun
(Allah). Untuk memecahkan masalah ini, ia juga mengemukakan penciptaan secara
emanasi.
Filsafat
emanasi ini bukan merupakan hasil renungan Ibnu Sina (juga Al-Farabi), tetapi
berasal dari “ramuan Plotinus” yang menyatakan bahwa ala mini terjadi karena
pancaran dari Yang Esa (The One). Kemudian, filsafat Plotinus yang
berprinsip bahwa “Dari Sina (juga Al-Farabi) bahwa Allah menciptakan alam
secara emanasi. Hal ini memungkinkan karena dalam Al-Qur’an tidak ditemukan
informasi yang rinci tentang penciptaan alam dari materi yang sudah ada atau
dari tiadanya. Dengan demikian, walaupun prinsip Ibnu Sina dan Plotinus sama,
namun hasil dari tujuan berbeda. Oleh karena itu, dapat dikatakan, Yang Esa
Plotinus sebagai penyebab yang pasif bergeser menjadi Allah Pencipta alam dari
materi yang sudah ada secara pancaran.[18]
Berlainan
dengan dengan Al-Farabi, bagi Ibnu Sina Akal pertama mempunyai dua sifat wajib
wujudnya sebagai pancaran dari Allah dan sifat mungkin wujudnya jika ditinjau
dari hakikat dirinya. Dengan demikian, Ibnu Sina membagi objek pemikiran
akal-akal menjadi tida : Allah (wajib al-wujud li dzatihhi), dirinya
akal-akal (wajib al-wujud li ghairihi) sebagai pancaran dari Allah, dan
dirinya akal-akal (mumkin al-wujud) ditinjau dari hakikat dirinya.[19]
Sebagaimana
Al-Farabi, Ibnu Sina juga memajukan emanasi ini untuk mentauhidkan Allah
semutlak-mutlaknya. Oleh karena itu, Allah tidak bisa menciptakan alam yang
banyak jumlah unsurnya ini secara langsung. Jika Allah berhubungan langsung
dengan alam yang plural ini tentu dalam pemikiran Allah terdapat hal yang
plural. Hal ini merusak citra tauhid.
4.
Jiwa
Harus
diakui bahwa keistimewaan pemikiran Ibnu Sina terletak pada filsafat jiwa. Pengaruh
Ibnu Sina dalam soal kejiwaan tidak dapat diremehkan, baik pada dunia piker
Arab sejak abad ke sepuluh Masehi sampai akhir abad ke 19 M, terutama pada
Gundisallinus, Albert the Great, Thomas Aquinas, Roger Bacon dan Dun Scot.[20]
Secara
garis besarnya pembahasan Ibnu sina tentang jiwa terbagi pada dua bagian
berikut :[21]
a.
Fisika, membicarakan tentang jiwa tumbuh-tumbuhan, hewan, dan
manusia.
-
Jiwa tumbuh-tumbuhan mempunyai tiga daya: makan, tumbuh, dan
berkembang biak. Jadi, jiwa pada tumbuh-tumbuhan hanya berfungsi untuk makan,
tumbuh, dan berkembang biak.
-
Jiwa binatang mempunyai dua daya: gerak (al-mutaharrikat)
dan menangkap (al-mudrikat). Daya yang terakhir ini terbagu menjadi dua
bagian yakni : menangkap dari luar (al-mudrikat min al-kharij) dengan
panca indera dan menangkap dari dalam (al-mudrikat min al-dakhil) dengan
indera-indera batin (al-hawas al-bathinat), yang terdiri atas lima indra
berikut:
1.
Indera bersama (al-hiss al-musytarak), yaitu menerima segala
apa yang ditangkap oleh indera luar.
2.
Indera al-khayyal, yang menyimpan segala apa yang diterima
oleh indera bersama.
3.
Imajinasi (al-mukhayyilat) yang menyusun apa yang disimpan
dalam khayyal.
4.
Indera wahmiyah (estimasi) yang dapat menangkap hal-hal yang
abstrak yang terlepas dari materinya, seperti kahurusan lari bagi kambing ketika
melihat serigala.
5.
Indera pemeliharaan (rekoleksi) yang menyimpan hal-hal abstrak yang diterima oleh indera estimasi.
-
Jiwa manusia, yang disebut juga al-nafs al-nathiqat,
mempunyai dua daya : praktis (al-‘amilat) dan teoretis (al-‘alimat),
daya praktis hubungannya dengan jasad sedangkan daya teoretis hubungannya
dengan hal-hal abstrak. Daya teoretis ini mempunyai empat tingkatan berikut :
1.
Akal materiil (al-‘aql al-hayulany) yang semata-mata
mempunyai potensi untuk berfikir dan belum dilatih walaupun sedikit.
2.
Akal al-malakat (al-‘aql bi al-malakat) yang telah mulai
dilatih untuk berfikir tentang hal-hal yang abstrak.
3.
Akal aktual (al-‘aql bi al-fi’il) yang telah dapat berfikir
tentang hal-hal abstrak.
4.
Akal Mustafad (al-‘aql al-mustafad), yaitu akal yang telah
sanggup berfikir tentang hal-hal abstrak tanpa perlu daya upaya. Akal seperti
inilah yang dapat berhubungan dan
menerima limpahan ilmu pengetahuan dari Akal Aktif.
b.
Metafisika, membicarakan tentang hal-hal berikut :
1.
Wujud jiwa, yang dalam pembuktiannya Ibnu Sina mengemukakan empat
dalil, yakni :
a.
Dalil kejiwaan yang didasarkan pada phenomena gerak ( gerakan
paksaan dan gerakan tidak paksaan)
b.
Konsep “Aku” dan kesatuan fenomena psikologis yang didasarkan pada
hakikat manusia.
c.
Dalil kontinuitas (al-istimrar) yang didasarkan pada
perbandingan jiwa dan jasad.
d.
Dalil manusia terbang atau manusia melayang di udara, dalil ini
menunjukkan daya kreasi Ibnu Sina yang sangat mengagumkan. Meskipun dasarnya
bersifat asumsi atau khayalan, namun tidak mengurangi kemampuannya dalam
memberikan keyakinan.[22]
2.
Hakikat Jiwa, dalam hal ini Ibnu Sina mendefenisikan jiwa dengan
jauhar rohani. Definisi ini mengisyaratkan bahwa jiwa merupakan substansi
rohani, tidak tersusun dari materi-materi sebagaimana jasad. Kesatuan antara
keduanya bersifat accident, hancurnya jasad tidak membawa pada hancurnya jiwa
(roh). Pendapat ini lebih dekat pada Plato yang mengatakan jiwa adalah
substansi yang berdiri sendiri (al-nafs jauhar qa’im bi dzatih).
3.
Hubungan jiwa dengan jasad, dalam hal ini Ibnu Sina sependapat
dengan Plato, yang menyatakan bahwa hubungan keduanya bersifat accident
(binasanya jasad tidak membawa binasa kepada jiwa). Menurutnya, selain eratnya
hubungan antara jiwa dan jasad, keudanya juga saling mempengaruhi atau saling membantu. Jasad adalah tempat
jiwa, adanya jasad merupakan syarat mutlak terciptanya jiwa.
4.
Kekekalan Jiwa, menurut Ibnu Sina jiwa manusia berbeda dengan
tumbuhan dan hewan yang hancur dengan hancurnya jasad. Jiwa manusia akan kekal
dalam bentuk individual, yang akan menerima pembalasan (bahagia dan celakanya)
di akhirat. Akan tetapi kekalnya ini dikekalkan Allah (al-Khulud). Jadi,
jiwa adalah baharu karena diciptakan (punya awal) dan kekal (tidak punya akhir).
Dalam menetapkan kekalnya jiwa, Ibnu Sina mengemukakan tiga dalil berikut.
a.
Dalil al-infishal, yaitu perpaduan antara jiwa dan jasad bersifat aksiden,
masing-masing unsure mempunyai substansi tersendiri, yang berbeda antara satu
dengan lainnya. Karenanya, jiwa kekal walaupun jasad binasa. Sementara itu,
jasad tidak dapat hidup tanpa adanya jiwa.
b.
Dalil al-basathat, yaitu adalah jauhar rohani yang hidup selalu dan tidak mengenal
mati.
c.
Dalil al-musyabahat, dalil ini bersifat metafisika. Jiwa manusia, sesuai dengan
filsafat emanasi, bersumber dari Akal Fa’al (akal sepuluh) sebagai
pemberi segala bentuk. Karena Akal Sepuluh ini merupakan esensi yang berfikir,
azali dan kekal, maka jiwa sebagai ma’lul (akibat)-nya akan kekal sebagaimana
‘illat (sebab)-nya.
Sesuai
dengan isyarat diatas, secara eksplisit Ibnu sina mengatakan bahwa yang
dibangkitkan di akhirat nantinya hanya rohnya. Uraian tersebut mengisyaratkan
bahwa Ibnu Sina menempatkan jiwa manusia pada peringkat yang paling tinggi.
Disamping sebagai dasar berfikir, jiwa manusia juga mempunyai daya-daya yang
terdapat pada jiwa tumbuhan dan hewan.
Demikianlah
bahasan tentang Ibnu Sina, kendatipun kebanyakan pemikiran-pemikiran
filsafatnya telah dikemukakan Al-Farabi sebelumnya, namun ia telah berhasil
memberikan uraian secara rinci dan lengkap dengan gayanya yang menarik.
Karenanya tepat sekali penilaian yang mengatakan bahwa ditangan ibnu sinalah
filsafat di dunia Islam Timur mencapai puncaknya yang tertinggi.[23]
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Dari pembahasan makalah tersebut,
dapat kita ketahui bahwasannya sejak usia muda Ibnu Sina telah menguasai
beberapa disiplin ilmu seperti matematika, logika, fisika, kedokteran,
astronomi, hukum dan lain-lainnya, bahkan dalam usia sepuluh tahun ia telah
hafal Al-Qur’an seluruhnya. Dan Atas keberhasilan Ibnu Sina dalam mengembangkan
pemikiran filsafat sehingga dapat dinilai bahwa filsafat ditangannya telah
mencapai puncaknya, dan karena prestasinya itu, ia berhak memperoleh gelar
kehormatan dengan sebutan al-Syikh al-Ra’is (Kiyahi Utama). Di dunia
Barat Ibnu Sina juga dikenal kemasyhurannya sebagai dokter melampaui kemasyhuran
sebagai Filosof, sehingga ia mereka beri gelar “the Prince of the Physicians”. Diantara
karyanya yang terpenting adalah: Al-Syifa’, Al-Najah, Al-Isyarah
wa al-Tanbihah, Al-Qanun fi al-Thibb, Al-Hikmah al-‘Arudhiyyah,
Hidayah al-rais li al-Amir, Risalah fi al-Kalam ala al-Nafs
al-Nathiqiyah dan Al-Manthiq al-Masyriqiyyin.
Dalam pandangan Ibnu Sina para Nabi
sangat diperlukan bagi kemaslahatan manusia dan alam semesta. Ibnu Sina dalam
membuktikan adanya Allah tidak perlu mencari dalil dengan salah satu
makhluknya, tetapi cukup dengan dalil adanya wujud pertama, yakni wajib
al-wujud. Sebagaimana Al-Farabi, Ibnu Sina juga memajukan emanasi untuk
mentauhidkan Allah semutlak-mutlaknya. Dalam hal pemikiran Ibnu Sina mengenai
jiwa, ia menempatkan jiwa manusia pada peringkat yang paling tinggi. Disamping
sebagai dasar berfikir, jiwa manusia juga mempunyai daya-daya yang terdapat
pada jiwa tumbuhan dan hewan.
B.
Saran
Selanjutnya
saya sebagai penulis dengan keterbatasan yang saya miliki banyak sekali kekeliruan
dalam penulisan. Oleh karenanya saya mengharapkan masukan dari berbagai pihak
demi kesempurnaan makalah untuk kedepannya.
DAFTAR
PUSTAKA
Hanafi, Ahmad, MA, Pengantar
Filsafat Islam, Jakarta : Bulan Bintang, 1996.
Madjid, Nurcholis, Khazanah
Intelektual Islam, Jakarta : Bulan Bintang, 1984
Nasution, Harun, Islam di
tinjau dari berbagai aspeknya, Jilid II, Jakarta: UI, 1986
Nasution, Harun, Akal dan Wahyu
dalam Islam, Jakarta : universitas Indonesia, 1983
Nasution,
Hasyimsyah, Filsafat Islam. Jakarta: Gaya Media Pratama, 1999
Sirajudin
Zar, MA, Prof. Dr. Filsafat Islam
(Filosof dan Filsafatnya), Jakarta: Rajawali Pers: 2004
Zaenal Abidin, Ahmad. H, Ibnu
Siena (Avecenna) Sarjana dan Filosuf Dunia, Jakarta : Bulan Bintang, 1949
[1]
Prof. Dr. Sirajudin Zar, MA, Filsafat Islam (Filosof dan Filsafatnya), (Jakarta:
Rajawali Pers, 2004), h. 91.
[2] Dr.
Hasyimsyah Nasution, M.A, Filsafat Islam. (Jakarta: Gaya Media Pratama,
1999), h. 66-67.
[3]
Sirajudin, Op. Cit., h. 92.
[4] H.
Zaenal Abidin Ahmad, Ibnu Siena (Avecenna) Sarjana dan Filosuf Dunia,
(Jakarta : Bulan Bintang, 1949) H. 49
[5] Ibid, h. 92-93.
[6]
Nurcholis Madjid, Khazanah Intelektual Islam, (Jakarta : Bulan Bintang,
1984). h. 33
[8] Dr.
Hasyimsyah Nasution, Op. Cit h. 68.
[10]
Sirajudin, Op. Cit., h. 94.
[11]
Hasyim Nasution, Op. Cit., h. 68-69.
[12]
Harun Nasution, Akal dan Wahyu dalam Islam, (Jakarta : universitas
Indonesia, 1983). H. 18 dan 84.
[13] Ibid
[14] Sirajudin,
Op. Cit., h. 95- 96.
[16]
Sirajudin. Op. Cit., h. 96-97
[23]
Nurcholis Madjid, Khazanah, Loc. Cit.
No comments:
Post a Comment