DINASTI
ABBASIYAH
Awal
kekuasaan Dinasti Bani Abbas ditandai dengan pembengkangan yang dilakukan oleh
Dinasti Umayah di Andalusia (Spanyol). Di satu sisi, Abd al-Rahman al-Dakhil
bergelar amir (Jabatan kepala wilayah ketika itu). sedangkan disisi yang lain,
ia tidak tunduk pada Khalifah yang ada di Bagdad. Perkembangan Abd al-Dakhil
terhadap Bani Abbas mirip dengan perkembangan yang dilakukan oleh Muawiyah
terhadap Ali Ibn Abi Thalib. Dari segi durasi, kekuasaan Dinasti Bani Abbas
termasuk lama, yaitu sekitar lima abad.
Abul
al-Abbas at-Safah (750-754 M) adalah pendiri dinasri Bani Abbas. Akan tetapi karena
kekuasaannya sangat singkat, Abu Ja’far al-Manshur (754-775 M) yang banyak
berjasa dalam membangun pemerintahan dinasti Bani Abbas. Pada tahun762 M, Abu
Ja’far al-Mansyur memindahkan ibu kota dari Damaskus ke Hasyimiah, kemudian
dipindahkan lagi ke Baghdad dekat dengan Ctesiphon, bekas ibukota Persia. Oleh
karena itu, ibu kota pemerintah dinasti bani Abbas berada di tengah-tengah
bangsa Persia.
Abi Ja’far
al-Mansyur sebagai pendiri Muawiyah setelah Abu Abbas al-Saffah, sebagai orang
yang kuat dan tegas, ditangannyalah Abbasiyah mempunyai pengaruh yang kuat.
Pada masa pemerintahannya Baghdad sangatlah disegani oleh kekuasaan Byzantium.
Kekuasaan
dinasti Bani Abbas atau khalifah Abbasiyah, melanjutkan kekuasaan dinasti
Umayyah. Dinamakan khalifah Abbasiyah karena para pendiri dan penguasa dinasti
ini adalah keturunan Al-Abbas paman Nabi Muhammad SAW. Kekuasaannya berlangsung
dalam rentang waktu yang panjang, dari tahun 132 H (750 M) s.d 656 H (1258 M).
a.
Sejarah Berdirinya Dinasti Abbasiyah
Berdirinya bani abbasiyah
dikarenakan plda masa pemerintahan Bani Umaiyyah pada masa pemerintahan khalifah Hisyam ibn abdi al-Malik muncul kekuatan baru
yang menjadi tantangan berat bagi pemerintahan Bani Umayyah. Kekuatan itu
berasal dari kalangan bani Hasyim yang dipelopori keturunan al-Abbas ibn abd
al-muthalib. Gerakan ini mendapat dukungan penuh dari golongan Syiah dan kaum Mawali
yang merasa di kelas duakan oleh pemerintahan Bani Umayyah. Pada waktu itu ada
beberapa faktor yang menyebabkan dinasti Umayyah lemah dan membawanya kepada
kehancuran, akhirnya pada tahun 132 H (750 M) tumbanglah Daulah Umayyah dengan
terbunuhnya khalifah terkahir yaitu Marwan bin Muhammad dan pada tahun tiu
berdirilah kekuasaan dinasti Bani Abbas atau khalifah Abbasiyah karena para
pendiri dan penguasa dinasti ini keturunan al-Abbas paman Nabi Muhammad SAW,
niasti Abbasiyah didirikan oleh Abdullah
ibn al-Abbas. Kekuasaannya berlangsung dalam rentang waktu yang panjang dari
tahun 132 H sampai dengan 656 H. selama berkuasa pola pemerintahan diterapkan
berbeda-beda sesuai dengan perubahan politik, sosial dan budaya.
b.
Kelahiran
Daulah Abbasiyah.
1.
Pemerintahan
As-Saffah
Khalifah Abasiyah yang pertama
adalah Abu Abbas, dialah yang diberi kepercayaan kepada pamannya Abdullah dalam
perang melawan Marwan II, khalifah terkahir BAni Umayyah. Hingga akhir khalifah
member kepercayaan kepada salih bin Ali untuk membunuh Marwan, yang kemudian
kepala Marwan dikirim ke khalifah Abbas.
Saffah kemudian dipindah ke Anbar,
dia mengusir pemimpin-pemimpin Arab yang membantu Umayyah kecuali Abdurrahman
yang tidak berapa lama kemudian mendirikan dinasti Umayyah di Spanyol. Saffah
juga memutuskan untuk menghabisi nyawa beberapa orang pembantu Bani Umayyah. Ia
membunuh Abu Salama, dikenal sebagai menteri (wadi’) dari keluarga Nabi
Muhammad, seperti halnya dia membunuh Abu Hubayra, salah satu dari pemimpin
Bani Umayyah zaman Marwan II setelah member kebebasan kepadanya.
Kekhalifahan Saffah bertahan selama
4 tahun Sembilan bulan. Dia wafat pada tahun 136 H di Anbar, satu kota yang
telah dijadikan sebagai tempat kedudukan pemerintahannya.
2.
Sistem
Kekhalifahan Abbasiyah
Khalifah Abbasiyah kedua mengambil gelar Al-Mansyur dan meletakkan
dasar-dasar pemerintahan Abbasiyah. Dibawah Abbasiyah, kekhalifahan berkembang
sebagai sistem politik. Dinasti ini
muncul dengan bantuan orang-orang Persia yang merasa bosan terhadap Bani
Umayyah di dalam masalah sosial dan politik diskriminasi. Khalifah-khalifah
Abbasiyah yang memakai gelar “Imam” pemimpin masyarakat muslim untuk menekankan
arti keagamaan. Abbasiyah mencontoh tradisi Umayyah di dalam mengumumkan lebih
dari satu putra mahkota raja.
Mansyur dianggap sebagai pendidir kedua dari Dinasti Abbasiyah.
Dimasa pemerintahannya Baghdad dibangun
menjadi ibu kota Dinasti Abbasiyah dan merupakan pusat perdagangan serta
kebudayaan. Hingga Baghdad dianggap sebagai kota terpenting di dunia pada saat
itu yang kaya akan ilmu pengetahuan dan kesenian. Hingga beberapa decade
kemudian dinasti Abbasiyah mencapai masa kejayaan.
c.
Perkembangan
Ilmu dan Ilmuwan yang berpengaruh pada masa Dinasti Bani Abbasiyah
Dinasti abbasiyah merupakan salah satu dinasti Islam yang sangat
peduli dalam upaya pengembangan ilmu pengetahuan. Sebab pemerintahan dinasti
Abasiyah telah menyiapkan segalanya untuk kepentingan tersebut. Diantara
fasilitas yang diberikan adalah pembangunan pusat-pusat riset dan terjemah
seperti baitul hikmah, majelis munadzarah dan pusat-pusat study lainnya.
Bidang-bidang ilmu pengetahuan umum yang berkembang antara lain:
a.
Filsafat
Proses
penerjemahan yang dilakukan umat islam pada masa dinasti bani Abbasiyah
mengalami kemajuan cukup besar. Diantara tokoh yang member andil dalam
perkembangan ilmu dan filsafat Islam adalah : al-Kindi, Abu Nasr al-Faraby,
Ibnu Sina, Ibnu Bajjah, Ibnu Thufail, al-Ghazali dan Ibnu Rusyd.
b.
Ilmu
Kalam
Menurut
A. Hasyim lahirnya ilmu kalam karena dua faktor : pertama , untuk membela Islam
dengan bersenjatakan filsafat. Kedua, karena semua masalah termasuk masalah
agama telah berkisar dari pola rasa kepada pola akal dan ilmu. Diantara tokoh
ilmu kalam yaitu : Wasil bin AAtha’, Baqilani, Asy-‘ary, Ghazali, Sajastani dan
lain-lain.
c.
Ilmu
Kedokteran
Ilmu
kedokteran merupakan salah satu ilmu yang mengalami perkembnangan yang sangat
pesat pada masa Bani Abbasiyah pada masa itu telah didirikan apotek pertama di
dunia, dan juga telah didirikan sekolah farmasi. Tokoh-tokoh Islam yang
terkenal dalam dunia kedokteran antara lain Al-Razi dan Ibnu Sina.
d.
Ilmu
Kimia
Ilmu
kimia juga termasuk salah satu ilmu pengetahuan yang dikembangkan oleh kaum
muslimin. Dalam bidang ini mereka memperkenalkan eksperimen obyektif. Hal ini
merupakan suatu perbaikan yang tegas dari cara spekulasi yang ragu-ragu dari
Yunani. Tokoh kimia yaitu : Jabir bin Hayyan.
e.
Ilmu
Hisab
Diantara
ilmu yang dikembangkan pada masa pemerintahan Abbasiyah adalah ilmu hisab atau
matematika. Ilmu ini berkembang karena kebutuhan dasar pemerintahan untuk
menentukan waktu yang tepat. Dalam setiap pembangunan semua sudut harus
dihitung dengan tepat, supaya tidak terdapat kesalahan dalam pembnagunan
gedung-gedung dna sebagainya. Tokohnya adalah Muhammad bin Musa al-Khawarizmi.
f.
Sejarah
Pada
masa ini sejarah masih terfokus pada tokoh atau peristiwa tertentu, misalnya
sejarah hidup Nabi Muhammad SAW. Ilmuan dalam bidang ini adalah Muhammad bin
Sa’ad , Muhammad bin Ishaq.
g.
Ilmu
Bumi
Ahli
ilmu bumi pertama adalah Hisyam al-Kalbi, yang terkenal pada abad ke-9 M, khususnya
dalam studynya mengenai bidang kawasan Arab.
h.
Astronomi
Tokoh
Astronomi Islam pertama adalah Muhammad al-Fazni dan dikenal sebagai pembuat
astrolob atau alat yang dipergunakan untuk mempelajari ilmu perbintangan
pertama di kalangan muslim. Selain al-Fazani ahli astronomi yang bermunculan
diantaranya adalah Muhammad bin Musa al-Khawarizmi al-Farghani al-Bathiani,
al-Biruni, Abdurrahman al-Sufi.
Selain ilmu
pengetahuan umum dinasti Abbasiyah juga memperhatikan pengembangan ilmu
pengetahuan keagamaan antara lain :
a.
Ilmu
Hadits
Diantara
tokoh yang terkenal dibidang ini adalah Imam Bukhari, hasil karyanya yaitu :
kitab al-Jami’ al-Shahih al-Bukhari. Imam muslim hasil karyanya yaitu kitab al-Jami’ al-Shahih al-Muslim,
Ibnu Majah, Abu Daud, at-Tirmidzi dan al-Nasa’i.
b.
Ilmu
Tafsir
Terdapat
dua cara yang ditempuh oleh para mufassir dalam menafsirkan ayat-ayat
al-Qur’an. Pertama. Metode tafsir bil ma’tsur metode penafsiran oleh
sekelompok mufassir dengan cara member panafsiran al-Qur’an dengan Hadits dan
penjelasan para sahabat. Kedua, metode tafsir di al-ra’yi yaitu penafsiran
al-Qur’an dengan menggunakan akal lebih banyak dari pada hadits. Diantara
tokoh-tokoh mufassir adalah Imam al-Thabary, al-Sud’a Muqatil bin Sulaiman.
c.
Ilmu
Fiqih
Dalam
bidang fiqih par fuqaha’ yang ada pada masa bani Abbasiyah mampu menyusun
kitab-kitab fiqih terkenal hingga saat ini misalnya, imam Abu hanifah menyusun
kitab musnad al-Imam al-a’dzam atau fiqih al-akbar, Imam Malik menyusun tauhid,
Imam Ibnu Hambal menyusun kitab al Musnad Ahmad bin Hambal.
d.
Ilmu
Tasawuf
Kecendrungan
pemikiran yang bersifat filosofi menimbulkan gejolak pemikiran diantara umat
Islam, sehingga banyak diantara para pemikir muslim mencoba mencari bentuk
gerakan lain seperti tasawuf. Tokoh sufi yang terkenal yaitu Imam al-Ghazali
diantara karyanya dalam ilmu tasawuf adalah ihya ulum al-din.
Dengan
tumbnagnya daulah bani Umayyah maka keberadaan Daulah bani Abbasiyah
mendapatkan tempat penerangan dalam masa kekhalifahan Islam saat itu, dimana
daulah Abbasiyah ini sebelumnya telah menyusun dan menata kekuatan yang begitu
rapi dan terencana.
d.
Kejayaan
Daulah Abbasiyah
1.
Gerakan
Penerjemahan
Meski kegiatan penerjemahan sudah dimulai sejak Daulah Umayyah,
upaya untuk menerjemahkan dan menskrinsip berbahasa Yunani dan Persia kedalam
bahasa Arab mengalami masa keemasan pada masa Daulah Abbasiyah. Para ilmuan
diutus ke daerah Bizantium untuk mencari naskah-naskah Yunai dalam berbagai
ilmu terutama filsafat dan kedokteran. Sedangkan perburuan manuskrip di daerah
Timur seperti Persia adalah terutama dalam bidang Tata Negara dan Sastra.
Pelopor gerakan penerjemahan pada awal pemerintahan daulah
Abbasiyah adalah Khalifah Al-Mansyur yang juga
membangun ibu kota Baghdad. Kemudian naskah-naskah filsafat Aristoteles
dan Plato juga diterjemahkan. Dalam masa keemasan, karya yang banyak
diterjemahkan tetntang ilmu-ilmu pramatis seperti kedokteran. Naskah astronomi
dan matematika kuga diterjemahkan namun karya-karya berupa puisi, drama, cerpen
dan sejarah jarang diterjemahkan karena bidang ini dianggap kurang bermanfaat.
1)
Baitul
Hikmah
Baitul
hikmah merupakan perpustakaan yang berfungsi sebagai pusat pengembangan ilmu
pengetahuan.
2)
Pada
masa Harun ar-Rasyid
Institusi
ini bernama Khizanahal-Hikmah (Khazanah kebijaksanaan) yang berfungsi sebagai
perpustakaan dan pusat penelitian.
3)
Pada
masa al-Ma’mun
Lembaga
ini dikembangkan sejak tahun 815 M dan diubah namanya menjadi Bait al-Hikmah,
yang dipergunakan secara lebih maju yaitu sebagai tempat penyimpanan buku-buku
kuno yang didapat dari Persia, Bizantium, dan bahkan dari Ethiopia dan India.
Dibawah kekuasaan Al-Ma’mun, lembaga ini sebagai perpustakaan juga sebagai
pusat kegiatan study dan riset astronomi dan matematika.
2.
Dalam
bidang Filsafat
Pada masa inni pemikiran filsafat mencakup bidang keilmuan yang
sangat luas seperti logika, geometri, astronomi, dan music yang dipergunakan
untuk menjelaskan pemikiran abstrak, garis dan gambar, gerak dan su ibn Ishaq
al-Kine masa Abbasiyah seperti Ya’kub ibn Ishaq, al-Kindi, al-Farabi, Ibn
Majah, Ibn Tufail dan Ibn Rushd menjelaskan pemikiran-pemikirannya dengan
menggunakan contoh, metamor, analogi, dan gambaran imajinatif.
3.
Dalam
bidang Hukum Islam
Karya pertama yang diketahui adalah Majmu’ al Fiqh karya Zaid bin
Ali (w.122 H/740 M) yang berisi tentang fiqh Syi’ah Zaidiyah. Hakim agung yang
pertama adalah Abu Hanifah (w.150/767), meski dianggap sebagai pendiri madzhab
Hanafi, karya-karyanya sendiri tidak ada yang diselamatkan. Dua bukunya yang
berjudul Fiqh al Akbar (terutama berisi artikel tentang keyakinan) dan Wasiyah
Abi Hanifah berisi pemikiran-pemikirannya terselamatkan karena ditulis oleh
para muridnya.
4.
Perkembangan
Ekonomi
Ekonomi imperium Abbasiyah digerakkan oleh perdagangan. Hasil-hasil
industry dan pertanian ini diperdagangkan keberbagai wilayah kekuasaan
Abbasiyah dan Negara lain.
Emas yang ditambang dari Nubia dan Sudan Barat melambungkan
perekonomian Abbasiyah. Secara bersamaan dengan kemajuan Daulah Abbasiyah,
Dinasti Tang di Cina juga mengalami masa puncak kejayaan sehingga hubungan
perdagangan antara keduanya menambah semaraknya kegiatan perdagangan dunia.
5.
Dalam
bidang Peradaban
Masa
Abbasiyah menjadi tonggak puncak peradaban Islam. Khalifah-khalifah Bani
Abbasiyah secara terbuka mempelopori perkembangan ilmu pengetahuan dengan
mendatangkan naskah-naskah kuno dari berbagai pusat peradaban sebelumnya untuk
kemudian diterjemahkan, diadaptasi dan diterapkan di dunia Islam. Stabilitas politik
yang relative baik terutama pada masa Abbasiyah awal ini juga menjadi pemicu
kemajuan peradaban Islam.
e.
Runtuhnya
Daulah Abbasiyah
Sebab-sebab
keruntuhan daulah Abbasiyah :
a.
Keruntuhan
dari segi internal (dari dalam)
1.
Mayoritas
khalifah Abbasiyah periode akhir lebih mementingkan urusan pribadi dan
melalaikan tugas dna kewajiban mereka terhadap Negara.
2.
Luasnya
wilayah kekuasaan kerajaan Abbasiyah, sementara komunikasi pusat dengan daerah
sulit dilakukan.
3.
Semakin
kuatnya pengaruh keturunan Turki, mengakibatkan kelompok Arab dan Persia
menaruh kecemburuan atas posisi mereka.
4.
Dengan
profesionalisasi angkatan bersenjata ketergantungan khalifah kepada mereka
sangat tinggi.
5.
Permusuhan
antar kelompok suku dan pejabat kerjaan.
6.
Merajalelanya
korupsi dikalangan pejabat kerjaan.
b.
Keruntuhan
dari segi eksternal (dari luar)
1.
Perang
salib yang berlangsung bebrapa gelombang dan menelan banyak korban.
2.
Penyerbuan
Tentara Mongol dibawah pimpinan Hulagu Khan yang menghancurkan Baghdad.
Jatuhnya Baghdad oleh Hulagu Khan menandi berakhirnya kerajaan Abbasiyah dan
Muncul : Kerajaan Syafawiah di Iran, Kerajaan Usmani di Turki, dan Kerajaan
Mughal di India.
Dinamakan
khilafah bani Abbasiyah karena para pendiri dan penguasanya adalah keturunan al
Abbas paman Nabi Muhammad SAW. Dinasti ini didirikan oleh Abdullah al-Saffah
ibn Muhammad ibn Ali ibn Abdullah ibn Abbas.
Pada
periode pertama pemerintahan bani Abbas mencapai masa keemasannya. Secara
politis, khalifah betul-betul tokoh yang kuat dan merupakan pusat kekuasaan
politik dan agama.
Pada
mulanya ibu kota Negara adalah al-hasyimiyah dekat Kufah. Namun untuk lebih
memantapkan dan menjaga stabilitas Negara al-Mansyur memindahkan ibu kota
Negara ke Baghdad. Al- Masnyur melakukan konsolidasi dan penertiban pemerintahannya.
Dia menciptakan tradisi baru dengan mengangkat Wazir sebagai koordinator
departemen, dia juga membentuk protocol Negara, sekretaris, dan kepolisian
Negara disamping membenahi angkatan bersenjata.
No comments:
Post a Comment