Monday, April 20, 2015

ARTIKEL : SEJARAH PERADABAN ISLAM DINASTI ABBASIYAH DI BAGDAD

DINASTI ABBASIYAH
Awal kekuasaan Dinasti Bani Abbas ditandai dengan pembengkangan yang dilakukan oleh Dinasti Umayah di Andalusia (Spanyol). Di satu sisi, Abd al-Rahman al-Dakhil bergelar amir (Jabatan kepala wilayah ketika itu). sedangkan disisi yang lain, ia tidak tunduk pada Khalifah yang ada di Bagdad. Perkembangan Abd al-Dakhil terhadap Bani Abbas mirip dengan perkembangan yang dilakukan oleh Muawiyah terhadap Ali Ibn Abi Thalib. Dari segi durasi, kekuasaan Dinasti Bani Abbas termasuk lama, yaitu sekitar lima abad.
Abul al-Abbas at-Safah (750-754 M) adalah pendiri dinasri Bani Abbas. Akan tetapi karena kekuasaannya sangat singkat, Abu Ja’far al-Manshur (754-775 M) yang banyak berjasa dalam membangun pemerintahan dinasti Bani Abbas. Pada tahun762 M, Abu Ja’far al-Mansyur memindahkan ibu kota dari Damaskus ke Hasyimiah, kemudian dipindahkan lagi ke Baghdad dekat dengan Ctesiphon, bekas ibukota Persia. Oleh karena itu, ibu kota pemerintah dinasti bani Abbas berada di tengah-tengah bangsa Persia.
Abi Ja’far al-Mansyur sebagai pendiri Muawiyah setelah Abu Abbas al-Saffah, sebagai orang yang kuat dan tegas, ditangannyalah Abbasiyah mempunyai pengaruh yang kuat. Pada masa pemerintahannya Baghdad sangatlah disegani oleh kekuasaan Byzantium.
Kekuasaan dinasti Bani Abbas atau khalifah Abbasiyah, melanjutkan kekuasaan dinasti Umayyah. Dinamakan khalifah Abbasiyah karena para pendiri dan penguasa dinasti ini adalah keturunan Al-Abbas paman Nabi Muhammad SAW. Kekuasaannya berlangsung dalam rentang waktu yang panjang, dari tahun 132 H (750 M) s.d 656 H (1258 M).
a.      Sejarah  Berdirinya Dinasti Abbasiyah
Berdirinya bani abbasiyah  dikarenakan plda masa pemerintahan Bani Umaiyyah pada  masa pemerintahan khalifah  Hisyam ibn abdi al-Malik muncul kekuatan baru yang menjadi tantangan   berat  bagi pemerintahan Bani Umayyah. Kekuatan itu berasal dari kalangan bani Hasyim yang dipelopori keturunan al-Abbas ibn abd al-muthalib. Gerakan ini mendapat dukungan penuh dari golongan Syiah dan kaum Mawali yang merasa di kelas duakan oleh pemerintahan Bani Umayyah. Pada waktu itu ada beberapa faktor yang menyebabkan dinasti Umayyah lemah dan membawanya kepada kehancuran, akhirnya pada tahun 132 H (750 M) tumbanglah Daulah Umayyah dengan terbunuhnya khalifah terkahir yaitu Marwan bin Muhammad dan pada tahun tiu berdirilah kekuasaan dinasti Bani Abbas atau khalifah Abbasiyah karena para pendiri dan penguasa dinasti ini keturunan al-Abbas paman Nabi Muhammad SAW, niasti Abbasiyah didirikan  oleh Abdullah ibn al-Abbas. Kekuasaannya berlangsung dalam rentang waktu yang panjang dari tahun 132 H sampai dengan 656 H. selama berkuasa pola pemerintahan diterapkan berbeda-beda sesuai dengan perubahan politik, sosial dan budaya.
b.      Kelahiran Daulah Abbasiyah.
1.      Pemerintahan As-Saffah
Khalifah Abasiyah yang pertama adalah Abu Abbas, dialah yang diberi kepercayaan kepada pamannya Abdullah dalam perang melawan Marwan II, khalifah terkahir BAni Umayyah. Hingga akhir khalifah member kepercayaan kepada salih bin Ali untuk membunuh Marwan, yang kemudian kepala Marwan dikirim ke khalifah Abbas.
Saffah kemudian dipindah ke Anbar, dia mengusir pemimpin-pemimpin Arab yang membantu Umayyah kecuali Abdurrahman yang tidak berapa lama kemudian mendirikan dinasti Umayyah di Spanyol. Saffah juga memutuskan untuk menghabisi nyawa beberapa orang pembantu Bani Umayyah. Ia membunuh Abu Salama, dikenal sebagai menteri (wadi’) dari keluarga Nabi Muhammad, seperti halnya dia membunuh Abu Hubayra, salah satu dari pemimpin Bani Umayyah zaman Marwan II setelah member kebebasan kepadanya.
Kekhalifahan Saffah bertahan selama 4 tahun Sembilan bulan. Dia wafat pada tahun 136 H di Anbar, satu kota yang telah dijadikan sebagai tempat kedudukan pemerintahannya.
2.      Sistem Kekhalifahan Abbasiyah
Khalifah Abbasiyah kedua mengambil gelar Al-Mansyur dan meletakkan dasar-dasar pemerintahan Abbasiyah. Dibawah Abbasiyah, kekhalifahan berkembang sebagai  sistem politik. Dinasti ini muncul dengan bantuan orang-orang Persia yang merasa bosan terhadap Bani Umayyah di dalam masalah sosial dan politik diskriminasi. Khalifah-khalifah Abbasiyah yang memakai gelar “Imam” pemimpin masyarakat muslim untuk menekankan arti keagamaan. Abbasiyah mencontoh tradisi Umayyah di dalam mengumumkan lebih dari satu putra mahkota raja.
Mansyur dianggap sebagai pendidir kedua dari Dinasti Abbasiyah. Dimasa pemerintahannya Baghdad dibangun  menjadi ibu kota Dinasti Abbasiyah dan merupakan pusat perdagangan serta kebudayaan. Hingga Baghdad dianggap sebagai kota terpenting di dunia pada saat itu yang kaya akan ilmu pengetahuan dan kesenian. Hingga beberapa decade kemudian dinasti Abbasiyah mencapai masa kejayaan.
c.       Perkembangan Ilmu dan Ilmuwan yang berpengaruh pada masa Dinasti Bani Abbasiyah
Dinasti abbasiyah merupakan salah satu dinasti Islam yang sangat peduli dalam upaya pengembangan ilmu pengetahuan. Sebab pemerintahan dinasti Abasiyah telah menyiapkan segalanya untuk kepentingan tersebut. Diantara fasilitas yang diberikan adalah pembangunan pusat-pusat riset dan terjemah seperti baitul hikmah, majelis munadzarah dan pusat-pusat study lainnya. Bidang-bidang ilmu pengetahuan umum yang berkembang antara lain:
a.      Filsafat
Proses penerjemahan yang dilakukan umat islam pada masa dinasti bani Abbasiyah mengalami kemajuan cukup besar. Diantara tokoh yang member andil dalam perkembangan ilmu dan filsafat Islam adalah : al-Kindi, Abu Nasr al-Faraby, Ibnu Sina, Ibnu Bajjah, Ibnu Thufail, al-Ghazali dan Ibnu Rusyd.
b.      Ilmu Kalam
Menurut A. Hasyim lahirnya ilmu kalam karena dua faktor : pertama , untuk membela Islam dengan bersenjatakan filsafat. Kedua, karena semua masalah termasuk masalah agama telah berkisar dari pola rasa kepada pola akal dan ilmu. Diantara tokoh ilmu kalam yaitu : Wasil bin AAtha’, Baqilani, Asy-‘ary, Ghazali, Sajastani dan lain-lain.
c.       Ilmu Kedokteran
Ilmu kedokteran merupakan salah satu ilmu yang mengalami perkembnangan yang sangat pesat pada masa Bani Abbasiyah pada masa itu telah didirikan apotek pertama di dunia, dan juga telah didirikan sekolah farmasi. Tokoh-tokoh Islam yang terkenal dalam dunia kedokteran antara lain Al-Razi dan Ibnu Sina.
d.      Ilmu Kimia
Ilmu kimia juga termasuk salah satu ilmu pengetahuan yang dikembangkan oleh kaum muslimin. Dalam bidang ini mereka memperkenalkan eksperimen obyektif. Hal ini merupakan suatu perbaikan yang tegas dari cara spekulasi yang ragu-ragu dari Yunani. Tokoh kimia yaitu : Jabir bin Hayyan.
e.       Ilmu Hisab
Diantara ilmu yang dikembangkan pada masa pemerintahan Abbasiyah adalah ilmu hisab atau matematika. Ilmu ini berkembang karena kebutuhan dasar pemerintahan untuk menentukan waktu yang tepat. Dalam setiap pembangunan semua sudut harus dihitung dengan tepat, supaya tidak terdapat kesalahan dalam pembnagunan gedung-gedung dna sebagainya. Tokohnya adalah Muhammad bin Musa al-Khawarizmi.
f.       Sejarah
Pada masa ini sejarah masih terfokus pada tokoh atau peristiwa tertentu, misalnya sejarah hidup Nabi Muhammad SAW. Ilmuan dalam bidang ini adalah Muhammad bin Sa’ad , Muhammad bin Ishaq.
g.      Ilmu Bumi
Ahli ilmu bumi pertama adalah Hisyam al-Kalbi, yang terkenal pada abad ke-9 M, khususnya dalam studynya mengenai bidang kawasan Arab.
h.      Astronomi
Tokoh Astronomi Islam pertama adalah Muhammad al-Fazni dan dikenal sebagai pembuat astrolob atau alat yang dipergunakan untuk mempelajari ilmu perbintangan pertama di kalangan muslim. Selain al-Fazani ahli astronomi yang bermunculan diantaranya adalah Muhammad bin Musa al-Khawarizmi al-Farghani al-Bathiani, al-Biruni, Abdurrahman al-Sufi.
Selain ilmu pengetahuan umum dinasti Abbasiyah juga memperhatikan pengembangan ilmu pengetahuan keagamaan antara lain :


a.      Ilmu Hadits
Diantara tokoh yang terkenal dibidang ini adalah Imam Bukhari, hasil karyanya yaitu : kitab al-Jami’ al-Shahih al-Bukhari. Imam muslim hasil karyanya  yaitu kitab al-Jami’ al-Shahih al-Muslim, Ibnu Majah, Abu Daud, at-Tirmidzi dan al-Nasa’i.
b.      Ilmu Tafsir
Terdapat dua cara yang ditempuh oleh para mufassir dalam menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an. Pertama. Metode tafsir bil ma’tsur metode penafsiran oleh sekelompok mufassir dengan cara member panafsiran al-Qur’an dengan Hadits dan penjelasan para sahabat. Kedua, metode tafsir di al-ra’yi yaitu penafsiran al-Qur’an dengan menggunakan akal lebih banyak dari pada hadits. Diantara tokoh-tokoh mufassir adalah Imam al-Thabary, al-Sud’a Muqatil bin Sulaiman.
c.       Ilmu Fiqih
Dalam bidang fiqih par fuqaha’ yang ada pada masa bani Abbasiyah mampu menyusun kitab-kitab fiqih terkenal hingga saat ini misalnya, imam Abu hanifah menyusun kitab musnad al-Imam al-a’dzam atau fiqih al-akbar, Imam Malik menyusun tauhid, Imam Ibnu Hambal menyusun kitab al Musnad Ahmad bin Hambal.
d.      Ilmu Tasawuf
Kecendrungan pemikiran yang bersifat filosofi menimbulkan gejolak pemikiran diantara umat Islam, sehingga banyak diantara para pemikir muslim mencoba mencari bentuk gerakan lain seperti tasawuf. Tokoh sufi yang terkenal yaitu Imam al-Ghazali diantara karyanya dalam ilmu tasawuf adalah ihya ulum al-din.
Dengan tumbnagnya daulah bani Umayyah maka keberadaan Daulah bani Abbasiyah mendapatkan tempat penerangan dalam masa kekhalifahan Islam saat itu, dimana daulah Abbasiyah ini sebelumnya telah menyusun dan menata kekuatan yang begitu rapi dan terencana.
d.      Kejayaan Daulah Abbasiyah
1.      Gerakan Penerjemahan
Meski kegiatan penerjemahan sudah dimulai sejak Daulah Umayyah, upaya untuk menerjemahkan dan menskrinsip berbahasa Yunani dan Persia kedalam bahasa Arab mengalami masa keemasan pada masa Daulah Abbasiyah. Para ilmuan diutus ke daerah Bizantium untuk mencari naskah-naskah Yunai dalam berbagai ilmu terutama filsafat dan kedokteran. Sedangkan perburuan manuskrip di daerah Timur seperti Persia adalah terutama dalam bidang Tata Negara dan Sastra.
Pelopor gerakan penerjemahan pada awal pemerintahan daulah Abbasiyah adalah Khalifah Al-Mansyur yang juga  membangun ibu kota Baghdad. Kemudian naskah-naskah filsafat Aristoteles dan Plato juga diterjemahkan. Dalam masa keemasan, karya yang banyak diterjemahkan tetntang ilmu-ilmu pramatis seperti kedokteran. Naskah astronomi dan matematika kuga diterjemahkan namun karya-karya berupa puisi, drama, cerpen dan sejarah jarang diterjemahkan karena bidang ini dianggap kurang bermanfaat.
1)      Baitul Hikmah
Baitul hikmah merupakan perpustakaan yang berfungsi sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan.           
2)      Pada masa Harun ar-Rasyid
Institusi ini bernama Khizanahal-Hikmah (Khazanah kebijaksanaan) yang berfungsi sebagai perpustakaan dan pusat penelitian.
3)      Pada masa al-Ma’mun
Lembaga ini dikembangkan sejak tahun 815 M dan diubah namanya menjadi Bait al-Hikmah, yang dipergunakan secara lebih maju yaitu sebagai tempat penyimpanan buku-buku kuno yang didapat dari Persia, Bizantium, dan bahkan dari Ethiopia dan India. Dibawah kekuasaan Al-Ma’mun, lembaga ini sebagai perpustakaan juga sebagai pusat kegiatan study dan riset astronomi dan matematika.
2.      Dalam bidang Filsafat
Pada masa inni pemikiran filsafat mencakup bidang keilmuan yang sangat luas seperti logika, geometri, astronomi, dan music yang dipergunakan untuk menjelaskan pemikiran abstrak, garis dan gambar, gerak dan su ibn Ishaq al-Kine masa Abbasiyah seperti Ya’kub ibn Ishaq, al-Kindi, al-Farabi, Ibn Majah, Ibn Tufail dan Ibn Rushd menjelaskan pemikiran-pemikirannya dengan menggunakan contoh, metamor, analogi, dan gambaran imajinatif.
3.      Dalam bidang Hukum Islam
Karya pertama yang diketahui adalah Majmu’ al Fiqh karya Zaid bin Ali (w.122 H/740 M) yang berisi tentang fiqh Syi’ah Zaidiyah. Hakim agung yang pertama adalah Abu Hanifah (w.150/767), meski dianggap sebagai pendiri madzhab Hanafi, karya-karyanya sendiri tidak ada yang diselamatkan. Dua bukunya yang berjudul Fiqh al Akbar (terutama berisi artikel tentang keyakinan) dan Wasiyah Abi Hanifah berisi pemikiran-pemikirannya terselamatkan karena ditulis oleh para muridnya.
4.      Perkembangan Ekonomi
Ekonomi imperium Abbasiyah digerakkan oleh perdagangan. Hasil-hasil industry dan pertanian ini diperdagangkan keberbagai wilayah kekuasaan Abbasiyah dan Negara lain.
Emas yang ditambang dari Nubia dan Sudan Barat melambungkan perekonomian Abbasiyah. Secara bersamaan dengan kemajuan Daulah Abbasiyah, Dinasti Tang di Cina juga mengalami masa puncak kejayaan sehingga hubungan perdagangan antara keduanya menambah semaraknya kegiatan perdagangan dunia.
5.      Dalam bidang Peradaban
Masa Abbasiyah menjadi tonggak puncak peradaban Islam. Khalifah-khalifah Bani Abbasiyah secara terbuka mempelopori perkembangan ilmu pengetahuan dengan mendatangkan naskah-naskah kuno dari berbagai pusat peradaban sebelumnya untuk kemudian diterjemahkan, diadaptasi dan diterapkan di dunia Islam. Stabilitas politik yang relative baik terutama pada masa Abbasiyah awal ini juga menjadi pemicu kemajuan peradaban Islam.
e.       Runtuhnya Daulah Abbasiyah
Sebab-sebab keruntuhan daulah Abbasiyah :
a.      Keruntuhan dari segi internal (dari dalam)
1.      Mayoritas khalifah Abbasiyah periode akhir lebih mementingkan urusan pribadi dan melalaikan tugas dna kewajiban mereka terhadap Negara.
2.      Luasnya wilayah kekuasaan kerajaan Abbasiyah, sementara komunikasi pusat dengan daerah sulit dilakukan.
3.      Semakin kuatnya pengaruh keturunan Turki, mengakibatkan kelompok Arab dan Persia menaruh kecemburuan atas posisi mereka.
4.      Dengan profesionalisasi angkatan bersenjata ketergantungan khalifah kepada mereka sangat tinggi.
5.      Permusuhan antar kelompok suku dan pejabat kerjaan.
6.      Merajalelanya korupsi dikalangan pejabat kerjaan.
b.      Keruntuhan dari segi eksternal (dari luar)
1.      Perang salib yang berlangsung bebrapa gelombang dan menelan banyak korban.
2.      Penyerbuan Tentara Mongol dibawah pimpinan Hulagu Khan yang menghancurkan Baghdad. Jatuhnya Baghdad oleh Hulagu Khan menandi berakhirnya kerajaan Abbasiyah dan Muncul : Kerajaan Syafawiah di Iran, Kerajaan Usmani di Turki, dan Kerajaan Mughal di India.
Dinamakan khilafah bani Abbasiyah karena para pendiri dan penguasanya adalah keturunan al Abbas paman Nabi Muhammad SAW. Dinasti ini didirikan oleh Abdullah al-Saffah ibn Muhammad ibn Ali ibn Abdullah ibn Abbas.
Pada periode pertama pemerintahan bani Abbas mencapai masa keemasannya. Secara politis, khalifah betul-betul tokoh yang kuat dan merupakan pusat kekuasaan politik dan agama.
Pada mulanya ibu kota Negara adalah al-hasyimiyah dekat Kufah. Namun untuk lebih memantapkan dan menjaga stabilitas Negara al-Mansyur memindahkan ibu kota Negara ke Baghdad. Al- Masnyur melakukan konsolidasi dan penertiban pemerintahannya. Dia menciptakan tradisi baru dengan mengangkat Wazir sebagai koordinator departemen, dia juga membentuk protocol Negara, sekretaris, dan kepolisian Negara disamping membenahi angkatan bersenjata.





No comments:

Post a Comment