Monday, April 20, 2015

ARTIKEL SEJARAH PERADABAN ISLAM ALI BIN ABI THALIB

KHALIFAH ALI BIN ABI THALIB
Ali dilahirkan di Mekkah, daerah Hejaz, Jazirah Arab. Pada tanggal 13 Rajab. Menurut sejarawan, Ali dilahirkan 10 tahun sebelum dimulainya kenabian Muhammad, sekitar tahun 599 M atau 600 ( perkiraan ). Muslim syi’ah percaya bahwa Ali dilahirkan di dalam Ka’bah. Beliau bernama asli Haydar bin Abu Thalib, paman Nabi Muhammad SAW. Haydar yang berarti singa adalah harapan keluarga Abu Thalib untuk mempunyai penerus yang dapat menjadi tokoh pemberani dan disegani di antara kalangan Quraisy Mekkah.

1.      Kehidupan Awal
Ali dilahirkan dari ibu yang bernama Fatimah binti Asad, dimana Asad merupakan anak dari Hasyim, sehingga menjadikan Ali, merupakan keturunan Hasyim dari sisi bapak dan ibu. Kelahiran Ali bin Abi Thalib member hiburan bagi Nabi Muhammad SAW karena beliau tidak mempunyai anak laki-laki. Sehubungan dengan itu ayah dan ibu Ali memberikan kesempatan bagi Nabi SAW dan Khadijah untuk mengasuh Ali sebagai anak angkat. Sejak berumur 6 tahun, ali telah bersama dan menjadi pengikut setia Rasulullah. Ali adalah tameng hidup Rasulullah dalam kondisi kritis atau dalam berbagai peperangan genting, saat Rasulullah terancam. Kecintaan Ali terhadap Rasulullah, dibalas dengan sangat manis oleh Rasulullah. Pada sebuah kesempatan ia menghadiahkan kepada Ali sebuah kalimat yang begitu melegenda, yaitu : “Ali, engkaulah saudaraku.. didunia dan di akhirat…”.

2.      Masa Remaja
Ali adalah pribadi yang istimewa. Ia adalah remaja pertama di belahan bumi ini atau orang kedua setelah Khadijah yang meyakini kebenaran wahyu yang disampaikan oleh Rasulullah. Konsekuensinya adalah, ia kemudian seperti tercerabut dari kegemerlapan dunia remaja. Disaat remaja lain berhura-hura. Ali telah berkenalan dengan nilai-nilai spiritual yang ditujukan oleh Rasulullah, baik melalui lisan maupun melalui tindak-tanduk beliau.
Pada usia remaja setelah wahyu turun, Ali banyak belajar langsung dari Nabi SAW karena sebagai anak asuh, berkesempatan selalu dekat dengan Nabi, hal ini berkelanjutan hingga beliau menjadi menantu Nabi. Didikan langsung dari Nabi kepada Ali dalam semua aspek ilmu Islam baik aspek zhahir (exterior) atau syariah dan bathin (interior) atau tasawuf menggemblang Ali menjadi seorang pemuda yang sangat cerdas, berani dan bijak.

3.      Kehidupan Mekkah Sampai Hijrah Ke Madinah
Pada waktu Ali masih tiggal diMekkah, Ali pernah bersedia tidur dikamar Rasulullah untuk mengelabui orang-orang Quraisy uang ingin menggagalkan hijrah Nabi. Sehingga terkesan Nabi yang tidur sehingga masuk waktu menjelang pagi, baru mereka mengetahui bahwa Ali yang tidur, dantelah tertinggal satu malam Nabi meloloskan diri hijrah bersama Abu Bakar ke Madinah.
Setelah masa hijrah dan tinggal di Madinah, Ali dinikahkan oleh Nabi dengan putri kesayangannya Fatimah az-zahra. Abu Turab (yang berarti debu dalam bahasa Arab) adalah julukan yang paling disukai oleh Ali yang diberikan oleh Nabi kepadanya.

4.      Pertempuran Yang Diikuti Pada Masa Nabi SAW.
a.      Perang Badar
Beberapa saat setelah menikah terjadilah perang badar yang merupakan perang pertama dalam sejarah Islam. Disini Ali betul-betul menjadi pahlawan disamping Hamzah, paman Nabi. Banyaknya Quraisy Mekkah yang tewas ditangan Ali masih dalam perselisihan, tapi semua sepakat beliau menjadi bintang lapangan dalam usia yang masih sangat muda sekitar 25 tahun. Perang badar adalah perang spiritual. Disinilah, para sahabat terdekat dan pertama-tama rasulullah menunjukkan dedikasinya terhadap apa yang disebut dengan iman. 
b.      Perang Uhud
Perang Uhud meski pahit namun sejatinya berbuah manis. Di Uhud Rasulullah banyak kehilangan sahabat terbaiknya, para ahlul Badar. Termasuk pamannya, Hamzah-sang singa pasir.buah manisnya adalah, masuknya Khalid bin Walid, panglima musuh di perang Uhud, kepangkuan Islam. bagi Ali sendiri. Perang Uhud makin menguatkan imagi tersendiri pada sosok Fatimah binti Muhammad SAW. Sebab diperang Uhud Fatimah turut serta. Dialah yang membasuh luka ayahnya, juga Ali, berikut pedang dan baju perisainya yang bersimbah darah.
c.       Perang Khandaq
Perang Khandaq juga menjadi saksi nyata keberanian Ali bin Abi Thalib ketika memerangi mar bin Abdi Wud. Dengan satu tebasan pedangnya yang juga bernama dzulfikar, mar bin Wud terbelah menjadi dua bagian. Disini Ali kembali menjadi pahlawan, setelah cuma ia satu-satunya sahabat yang ‘berani’ maju meladeni tantangan seorang musuh yang dikenal jawara paling tangguh, “Amr bin Abdi Wud”.
d.      Perang Khaibar
Setelah perjanjian Hudaibiyah yang memuat perjanjian perdamaian antara kaum muslimin ddengan Yahudi, dikemudia hari Yahudi mengkhianati perjanjian tersebut sehingga pecah perang melawan Yahudi yang bertahan di Benteng Khaibar yang sangat kokoh, yakni perang Khaibar. Pada perang ini Rasulullah  menyerahkan tugas mulia kepada Ali in Abi Thalib memegang bendera untuk memimpin perang, dan Ali bin Abi Thalib berhasil menghancurkan benteng Khaibar dan membunuh seorang prajurit musuh yang berani bernama marhab lalu menebasnya dengan sekali pukul saja hingga terbelah menjadi dua bagian.
e.       Peperangan Lainnya
Hampir semua peprangan beliau ikuti kecuali perang Tabuk karena ia mewakili Nabi Muhammad untuk menjaga kota Madinah.

5.      Pertempuran Antar Sahabat
Amirul mukminin Ali ra, kemudian berkonsentrasi membenahi kondisi umat. Terutama pada sisi administrasi pemerintahan, ekonomi dan stabilitas pertahanan. Beberapa reformasi fundamental, seperti penggantian pejabat dan pengambilan kembali harta yang pernah diberikan oleh khalifah sebelumnya (Utsman bin Affan) menyulut kontroversi. Terutama dalam kacamata awam. Ali tak pula kunjung menyeret pelaku pembunuhan Khalifah Utsman ke Pengadilan. Pada msa ini Ali harus menghadapi sahabatnya sendiri yang dulu pernah berjuang bersama Rasulullah menegakkan Islam, bahkan ada pula sahabatnya yang dulu membaiatnya menjadi khalifah, kini turut pula menghadangnya. Spade masa ini sebgai khalifah terakhir Ali benar-benar dihadapkan pada masa pelik yang pada akhirnya menjadi awal kemunduran Islam. ketidaksempurnaan informasi yang diterima Bunda Aisyah di Mekkah terhadap beberapa kebijakan Khalifah Ali telah membuatnya menyerbu Kuffah. Perang Jamal (Unta), demikian sejarah mencatatnya. Namun, diakhir peperangan, Khalifah Ali menjelaskan semuanya, dan memulangkan Aisyah dengan hormat ke Mekkah dengan mengutus beberapa pasukan khusus untuk mengawal kepulangan bunda Aisyah ke Mekkah.

6.      Setelah Nabi Wafat
Setelah nabi wafat, muncul perbedaan pendapat mengenai pemimpin pengganti rasulullah, golongan Syi’ah berpendapat bahwa Ali harus menjadi Khalifah karena sudah ada wasita dari Nabi SAW. Akan tetapi golongan Sunni tidak sependapat,sehingga dalam suasana duka tersebut orang-orang Quraisy sepakat untuk membaiat Abu Bakar untuk menjadi khalifah.
Sebagai khalifah ke-4 yang memerintah selama sekitar 5 tahun. Masa pemerintahannya mewarisi kekacauan yang terjadi saat masa pemerintahan Khalifah Usman bin Affan. Yang untuk pertama kalinya terjadi perang saudara antara umat muslim terjadi saat masa pemerintahannya. Peristiwa pembunuhan terhadap Khalifah utsman bin Affan mengakibatkan kegentingan diseluruh dunia Islam pada waktu itu, hingga sampai ke Persia dan Afrika Utara.
Ali bin Abi Thalib, seseorang yang memilki kecakapan dalam militer dan strategi perang, mengalami kesulitan dalam administrasi Negara karena kekacauan luar biasa yang ditinggalkan pemerintahan sebelumnya. Ia meninggal di usia 63 tahun karena dibunuh oleh Abdurrahman bin Muljam yang berasal dari golongan Khawarij saat mengimami shalat Subuh di Masjid Kufah pada tanggal 19 Ramadhan, hingga ia menghembuskan nafas terkahirnya pada tanggal 21 ramadhan tanhun 40 Hijriah. Ali kemudian dikuburkan secara rahasia di Najaf.


No comments:

Post a Comment